Take a fresh look at your lifestyle.

Belajar Bijak Menikmati Alam

384

KAREBA.id | Pagi itu sekitar pukul 10.00, setelah packing peralatan, mempersiapkan segala sesuatu untuk bekal selama 2-3 hari dilapangan, saya berangkat menuju arah Selatan kota Palu. Melewati jalur Palu-Palolo di kabupaten Sigi. Kendaraan roda dua type motor besar mulai menanjak ketika memasuki Bora ibukota kabupaten Sigi.

Bora yang berada di kecamatan Sigi Biromaru, dapat ditempuh sekitar 30 menit dari kota Palu. Seterusnya kita melewati puluhan desa disepanjang kecamatan Palolo. Perjalanan itu, akan memanjakan mata kita melihat sisi kiri dan kanan ratusan hektare sawah dan perkebunan Coklat, dan sudah pasti hutan nan hijau serta gunung termasuk Gunung Nokilalaki yang kokoh tinggi mencapai 2535 mdpl (meter dari permukaan laut) juga tidak akan luput dari pandangan kita.

Tujuan perjalanan saya memang kearah sana, iya, ke Taman Nasional Lore Lindu di kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso. Taman Nasional itu berbatasan juga dengan desa Tongoa kecamatan Nokilalaki kabupaten Sigi, yang juga masih termasuk areal taman Nasional. Jarak sekitar 80 Kilometer akan ditempuh selama 1,5 sampai 2 jam jika menggunakan kendaraan roda dua atau empat. Hutan taman Nasional itu luasnya sekitar 217 hektare.

Hutan tropis yang luas tersebut, dipenuhi Flora dan Fauna. Bahkan, menurut para peniliti burung yang biasanya melakukan pemantauan disana, ada sekitar 263 jenis burung berada di hutan itu, sekitar 30 persen diantaranya merupakan Endemik, khas Sulawesi Tengah yang kemungkinan besarnya tidak ada atau dimiliki daerah lain.

Bagi para pecinta alam bebas dan pendaki gunung, biasanya akhir pekan atau kegiatan pendakian wajib bagi anggota baru kelompok pecinta alamnya, akan melakukan track pendakian ke gunung Nokilalaki (2535 mdpl) atau Rorekatimbu, Puncak Dingin (2.355 mdpl).

Tak terasa perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam itu sampai juga ditengah hutan dan mulai terasa dinginnya menusuk tulang. Wow sensasinya mulai terasa. Udara segarnya pun melonggarkan pernapasan. Danau Kalimpa’a atau sering disebut Danau Tambing menjadi alternative untuk mendirikan tenda sambil mendengar kicauan berbagai jenis burung. Oke, kita rehat disini sambil meneguk kopi dan melihat pemandangan indahnya.

Sejumlah Tenda dibangun sektar pinggiran danau karena banyaknya pengunjung. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016
Sejumlah Tenda dibangun sekitar pinggiran danau karena banyaknya pengunjung. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016

Danau ini berada sekitar 1700 mdpl, suhu dingin sudah pasti membuat kita menggigil. Disarankan untuk membawa jaket tebal untuk pegunungan agar suhu badan tetap terjaga jika ingin kesini.

Bagi para pecinta alam, atau sekedar jalan-jalan (Manjayonjayo, Bahasa Kaili), yang suka trip dan bahkan piknik keluarga, danau Tambing merupakan pilihan yang hits saat ini untuk akhir pekan yang mengasyikan. Pasalnya, dua bulan terakhir, saban akhir pekan saya sering sekali meluangkan waktu kesana. Tak kurang dari 500 hingga 800 orang setiap Jum’at-Minggu berada disana. Ratusan Tenda Dome warna warni dibangun disekitar areal yang sudah berbentuk semacam taman itu.

Dipinggiran danau Kalimpa’a-Tambing ratusan remaja, pemuda-pemudi dan bahkan yang bersama keluarganya, duduk menikmati dinginnya suhu hutan tropis.

Sejumlah Tenda dibangun sektar pinggiran danau karena banyaknya pengunjung. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016
Sejumlah Tenda dibangun sektar pinggiran danau karena banyaknya pengunjung. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016

Malam menjemput kelelahan perjalan dari Kota Palu Povinsi Sulawesi Tengah, ketika perlahan suara binatang malam mulai bernyanyi menyambut waktunya. Tenda-tenda pun terang benderang dengan lampu ukuran sedang yang disambungkan dari penyimpan daya maupun yang sudah diisi daya sebelumnya. Ditambah, beberapa penerangan taman seadanya yang ada disekiar areal itu milik Balai TNLL.

Dahulu, saya tidak melihat lampu kecuali balon senter yang kami buat yang disambung dengan bhatrai dua buah sebagai penerang malam, kala itu sekitar tahun 1993 hingga 1997. ‘Super’ gelap dan ‘super’ dingin, tidak seperti saat ini.

Aktifitas masak memasak dan atau sekedar membersihkan badan mulai menjadi pemandangan disetiap tenda jelang malam tiba. Iya, mereka bersiap menikmati indahnya malam dihutan itu. Danau lambat laun hanya pinggirannya terlihat terkena pantulan cahaya.

Jelang malam sekitar danau. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016
Jelang malam sekitar danau. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016

Beberapa waktu kemudian, sepanjang malam, alunan musik dengan dawai gitar terdengar dari beberapa tenda yang ada. Remaja saling bergantian menyanyikan lagu-lagu kesukaannya. Ada terdengar melagukan lyric pop, rock dan sesekali lagu reagee dan bahkan ada juga menikmati lantunan lagu dangdut buat menggerakan badan karena terasa dingin mulai memeluk tubuh. Mereka terdengar sedang melepas kepenatan suasana kota yang sumpek. Iya, kedengaran suara mereka sayup-sayup dibawa dingin malam di hutan itu. Saya menikmatinya sambil meneguk secangkir kopi sembari melepas juga sedikit pikiran tentang kerjaan, walaupun sebenarnya lagi bekerja sambil menikmati suasana pegunungan-hutan yang sejak dulu sekitar tahun 1991 memulai jatuh cinta dengan gunung, hutan, alam, dan lingkungan dengan kata lain suka mendaki gunung sejak kelas 1 SMP.

Beberapa waktu kemudian, satu-satu persatu musik perlahan terhenti, dan hanya ada satu sampai dua tenda yang masih menikmati petikan gitarnya. Yang lain memilih memasuki tenda dan mengambil kantong tidur (sleeping bag) atau jaket dan mulai berlabuh ke ‘pulau kapuk’ karena akan bangun esok subuh untuk menikmati suasana lain.

Waktu menunjukan sekitar pukul 05.30 ketika kicauan burung menjadi penanda pagi akan tiba. Gumpalan kabut terlihat menari-nari diatas danau. Dingin pun semakin menusuk kesemua persendian. Kopi menjadi idola pagi itu.

Sejumlah pengunjung bercengkarama usai mendirikan tendanya. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016
Sejumlah pengunjung bercengkarama usai mendirikan tendanya. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016

Lantas ? iya, pagi dengan kabut menyelimuti danau menjadi sasaran para ‘penghuni’ danau Tambing untuk tidak meninggalkan sekejappun moment itu. Jempret demi jempret dari kamera ponsel mereka, ada pula menggunakan kamera DSLR dan juga kamera sporty menjadi pemandangan pagi di hampir semua sudut areal perkemahan danau Tambing. Mereka merekam moment tersebut karena mungkin pekan depan, bulan depan, tahun depan atau bahkan beberapa tahun lagi akan kembali ke tempat indah itu. Kesempatan pagi tersebut tidak akan disia-siakan.

Di danau Kalimpa’a-Tambing yang terletak dijalan poros Palu-Napu sendiri, kita bisa menjumpai spesies burung antara lain Nuri Sulawesi (Tanygnatus Sumatrana), Kakatua (Cacatua Sulphurea), Kipasan Sulawesi (Rhipidura Teysman), Burung Kancilan Ungu (Maroon-Backed Whistler), Rangkong (Buceros Rhinoceros dan Aceros Cassidix) dan Pecuk Ular (Anhinga Rufa) serta masih banyak lagi jika berlama-lama duduk disekitar hutan dan danau.

HUTAN, GUNUNG DAN DANAU, BUKAN TEMPAT SAMPAH

Seringnya setiap akhir pekan ratusan orang memilih hutan Taman Nasional, danau kalimpa’a-Tambing dan bahkan melakukan pendakian ke Gunung Rorekatimbu dan Puncak Anaso, terutama diareal perkemahan pinggiran danau, menyisihkan berbagai masalah serius tentang sampah.

Menjadi pemandangan di Minggu sore, puluhan kilo sampah plastik yang ditinggalkan dari kemasan air mineral, bungkusan mie instan dan berbagai makanan ringan kita jumpai disana. Terkadang sejumlah oknum yang hanya menikmati alam atau hanya ikut beramai-ramai diajak rekannya, meninggalkan sampah disembarang tempat ketika hendak pulang. Padahal pengelola dari taman Nasional telah menyiapkan sejumah tong sampah dan karung untuk memudahkan pengumpulan sampah-sampah sisa makanan tersebut.

Sejumlah sampah ditinggalakan pengunjung disekitar tendanya, padahal pengelola sudah menyiapkan tempat sampah. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016
Sejumlah sampah ditinggalakan pengunjung disekitar tendanya, padahal pengelola sudah menyiapkan tempat sampah. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2016

Petugas disana terkadang kewalahan mengelola sampah-sampah itu. Beberapa kali mereka berdiskusi dengan saya. Mereka sudah berusaha mengumpulkan sampah-sampah tersebut untuk kemudian akan dijemput pihak mereka dari Kota Palu yang akan membuang sampah itu ke tempat pembuangan semestinya.

Walau setiap kita memasuki areal danau Kalimpa’a-Tambing harus mengeluarkan dana Rp. 5.000 hingga Rp.10.000 setiap kali berkunjung sesuai peraturan daerah sebagai kontribusi, urusan sampah itu bukanlah tanggungjawab pengelola saja, akan tetapi semua pihak termasuk para pengunjung yang memasuki areal hutan maupun danau.

Hutan, Gunung dan Danau bukanlah tempat sampah kawan. Mulailah bijak setiap berada ditempat sperti itu. Jaga dan lestarikan tempatnya, biar kelak anak cucu kita dapat juga menikmati seperti kita menikmatinya saat ini, salam lestari. olagondronk/kareba.id/2016

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: