Take a fresh look at your lifestyle.

Culture Project ‘Berbunyi’ Di Makassar

402

MAKASSAR, KAREBA.id | Kelompok musik yang identik dengan garapan bermuatan lokal Sulawesi Tengah asal kota Palu yakni Culture Project, mewakili kota Palu dalam pertunjukan musiknya diajang festival internasional, di anjungan Losari kota Makassar, Sulawesi Selatan Jum’at 8 September 2017.
Culture Project dari sejumlah aksi panggungnya sejak 2008 silam, merupakan sebuah ‘proyek’ daya pikir dan rasa, sebagai upaya meramu spirit tradisi etnis Kaili ke dalam garapan musik populer. Kelompok musik itu memandang kebudayaan sebagai suatu proses yang tumbuh. Bahwa hari ini tak lepas dari apa yang terjadi di masa lalu, yang berkontribusi dalam proses budaya selanjutnya.

Culture Project pertunjukan di Makassar Eight Festival dan Forum 2017. photo aipalupanas/cultureproject/kareba.id/2017

Kelompok ini, sejak 2008 memulai sebuah proyek musik. Setelah beberapa kali pergantian personil, Culture Project saat ini diiisi personil tetap yakni Zhul Usman pada vocal, Umariyadi Tangkilisan mengisi guitar dan vocal,, Akiq Ramadhan pada guitar dan juga vocal, Hidayat Makaranu penabuh drum, Pay Hasyim pada perkusi, Ayub Lapangandong pemegang bass serta vocal dan Riyan Fawzi Panintjo pada Gitar, synthetizer Vocal. Kelompok ini berkomitmen untuk menciptakan dan memanggungkan karya musik yang berpijak pada isu kekinian yang relevan terhadap peristiwa lokal maupun peristiwa global.
Kehadiran Culture Project di Makassar Eight Festival dan Forum 2017 memenuhi undangan silaturahmi dari Walikota Makassar, untuk dapat berpartisipasi dengan sejumlah karya mereka dalam event tersebut, yang digelar pada 6-10 September ini.
Sebuah garapan musik dalam lagu bertemakan ‘Palu Dimana’ membuka pertunjukan yang dikemas Culture Project dan mendapat antusias dari ribuan pengunjung. Sehingga dari sejumlah lagu seperti ‘Aku Cinta Negeri ini Walau Sering Menjengkelkan’, ‘Matahari’, ‘Porolelea’ dan sebuah lagu bertajuk ‘Nakuya’ yang berkolaborasi dengan sastrawan muda  Makassar yang sedang menggeluti sastra Lontara, Abdi Karya, mampu menghipnotis pihak penyelenggara dan penonton.
“Semoga karya-karya bertemakan lokal kami, bisa terus berinteraksi diruang-ruang pertunjukan senibudaya dimana saja, baik nasional maupun internasional,” terang Adi Tangkilisan didamping Zhul Usman. OLAGONDRONK/KAREBA.id/2017

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: