Take a fresh look at your lifestyle.

DIBUTUHKAN KEBIJAKAN POLITIK ANGGARAN MEMAJUKAN SENIBUDAYA DI SULTENG

352

LERE, PALU-KAREBA.id | Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota diharapkan dapat serius memberikan kontribusi melalui kebijakan anggaran dalam perkembangan dan memajukan  dunia senibudaya. Karena senidan budaya merupakan investasi masa depan negara ini.

Demikian Direktur Yayasan Tadulakota Sulteng sekaligus Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Tengah Drs Hapri Ika Poigi, Msi menegaskan disela-sela pelaksanaan Focus Grup Disccusion (FGD) di Tadulako Folk Art Festival bertempat di Taman Budaya Sulawesi Tengah, Minggu 11 Juni 2017.

Menurutnya, bukan berarti selama ini pemerintah daerah, pusat maupun kabupaten/kota tidak memberikan bantuan baik berupa materi dan non materi kepada perkembangan dunia kesenian dan kebudayaan, akan tetapi belum begitu besar kontribusi itu untuk perkembangan proses-proses kesenian dan kebudayaan yang begitu beragam ada di negara ini. Politik anggaran, terutama didaerah, untuk mendukung proses perkembangan senibudaya sangat jauh dari kebutuhan dasar para pekerja senibudaya, peniliti maupun pengelola, sehingga bukan menjadi rahasia lagi jika proses berkesenian dan budaya didaerah ini, yakni Sulawesi Tengah ‘pasang surut’ dan tidak mendapatkan progres yang baik.

TADULAKO FOLK ART FESTIVAL 2017 – Sanggar Lawan Catur Ensamble Kota Palu melantunkan kesenian Notutura. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2017

“Kita, para pekerja senibudaya maupun peneliti kebudayaan didaerah ini berharap kebijakan politik anggaran pemerintah dapat memenuhi proses-proses yang selama ini dan sementara berlangsung, untuk tetap menjaga inventasi tersebut,” tegasnya.

Tadulako Folk Art Festival yang digelar Minggu-Senin, 11-12 Juni 2017 itu bukti kongkrit bagaimana semangat ribuan pekerja senibudaya yang masih terus berproses dalam memajukan perkembangan kesenian dan kebudayaan daerah ini. Festival yang bekerjasama dengan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia itu diikuti puluhan seniman tradisi, pekerja seni, pengelola senibudaya dari kabupaten Sigi, Donggala maupun Kota Palu.

“Animo mereka mengikuti festival ini begitu besar, hanya karena keterbatasan anggaran kami tidak bisa mengikutkan kelompok/sanggar lainnya,” terang Hapri.

TADULAKO FOLK ART FESTIVAL 2017 -Kelompok seni Goneganti dari Kabupaten Donggala menampilkan sebuah pertunjukan musik. PHOTO OLAGONDRONK/KAREBA.id/2017

Sementara, sejumlah pelaku seni yang selama ini terus berproses, kepada Kareba.id menanggapi positif adanya kegiatan itu. Menurut mereka, pemerintah daerah maupun kabupaten/kota seharusnya lebih serius melihat pesatnya proses-proses senibudaya tersebut, terutama yang saat ini dilakukan oleh ribuan pekerja seni yang berada dalam puluhan kelompok senibudaya yang tersebar di Kota Palu, Sigi maupun Donggala.

Perupa Kota Palu Endeng Mursalin menggambarkan, pemerintah idealnya jika akan berkontribusis untuk perkembangan senibudaya seharusnya melibatkan pelaku dan pekerja senibudaya dalam memberikan masukan maupun ide-ide untuk lebih meningkatkan hasil maksimal.

“Iya, seharusnya jika pemerintah dalam melaksanakan kegiatan dapat melibatkan pekerja dan pelaku senibudaya agar dapat hasil yang maksimal dan tidak terkesan asal jadi,” katanya.

Ditambahkannya, sinergi antara pemerintah dengan pelaku, pekerja seni dan pengelola dalam memajukan perkembangan senibudaya merupakan hal yang tidak bisa terpisahkan. Karena, pemerintah sebagai pelaksana politik anggaran kesenian dan kebudayaan serta pelaku dan pekerja seni merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan.

Pemerintah Pusat, melalui UU No.5 Tahun 2017 dengan jelas mengatakan jika memajukan kebudayaan Nasional ditengah dinamika perkembangan dunia, diperlukan sejumlah langkah yakni, pemajuan kebudayaan melalui perlindungan, pengembagan, pemanfataan dan pembinaan. OLAGONDRONK/KAREBA.id/2017

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: