Take a fresh look at your lifestyle.

Dokter Gigi Ingatkan Efek Gula Berlebih untuk Mulut

244

KAREBA. ID |  Hampir tidak mungkin sepenuhnya menghindari konsumsi gula. Selain digunakan sebagai penambah rasa di banyak makanan dan minuman, gula juga secara alami terkandung pada makanan tertentu. Meski begitu, sebaiknya tidak berlebihan mengonsumsi gula.

Gula bertanggung jawab atas epidemi pembusukan gigi yang dialami sekitar 92 persen orang dewasa berusia 20 sampai 64 tahun di seluruh dunia. Berikut efek gula pada mulut yang disampaikan dokter gigi James Goolnik, pendiri Bow Lane Dental.

 

– Pembusukan gigi

Enamel adalah bagian paling keras di tubuh kita, tetapi sekali hancur akan sulit memulihkannya lagi. Enamel rentan terserang asam dan gula yang terakumulasi dari makanan yang kita konsumsi, memicu infeksi bakteri dan menyebabkan pembusukan gigi.

 

– Penyakit gus

Konsumsi gula berlebihan menyebabkan penyakit gusi, yang akan menyerang lebih agresif pada pengidap diabetes. Peradangan kronis akibat penyakit gusi pun berkontribusi pada komplikasi diabetes lebih lanjut.

 

– Perubahan warna gigi

Makanan dan minuman manis dengan tumpukan gula berpotensi mengubah warna gigi menjadi kekuningan. Penyebab utamanya adalah bakteri Streptococcus yang bereaksi terhadap gula, menghasilkan asam dan mengubah tampilan gigi secara bertahap.

 

– Napas tak sedap

Konsumsi gula tinggi dalam jangka panjang bisa mengubah populasi mikrobioma di dalam mulut. Risikonya, lebih banyak bakteri penyebab bau mulut yang bersarang sehingga memicu napas tak sedap, gigi berlubang, hingga penyakit gusi.

 

– Gigi berantakan

Pola makan masyarakat Barat yang penuh gula dan makanan yang diproses berakibat buruk pada struktur gigi. Temuan itu terangkum dalam riset tahun 1939, yang menyebutkan bahwa kebiasaan makan demikian membuat gigi tumbuh berantakan.

 

– Penyakit jantung

Sejumlah studi telah mengaitkan infeksi kronis akibat gangguan kesehatan gigi dan gusi dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Secara tidak langsung, gula berlebih pun punya peranan memperluas efek peradangan tubuh tersebut.

 

– Kanker

Sederet riset menunjukkan bahwa tingginya kadar gula berkaitan dengan insulin-like growth factor-1 (IGF-1). Faktor hormonal itu dapat meningkatkan proliferasi sel tumor dan mengganggu terapi kanker, dikutip dari laman Healthista.rol/kareba.id/2020

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: