Take a fresh look at your lifestyle.

Hubungan Segitiga Guru, Siswa dan Orang Tua

OPINI

677

oleh: Sunarti S. Lampene *)

Palu, KAREBA.ID l Profesi seorang guru di masa kini mulai terasa berat bebannya. Bahkan, bisa dikatakan, guru era kini di ambang dilema. Seringkali profesi guru selalu menjadi sasaran kemarahan murid ataupun orangtua siswa.

Alhasil, mereka kerap mengalami dilema setiap kali memberikan pendidikan bagi anak didiknya di dalam kelas.

Menyangkut karakter murid yang hakikatnya bentukan dari keluarga kadang terabaikan oleh mereka, alih-alih guru lagi yang berperan dalam membentuk karakter.

Orang tua yang sibuk melalaikan kewajibannya, anak jarang diajak ngobrol bahkan tidak pernah ngobrol dengan anaknya menanyakan apa saja keluh kesah anak.

Orang tua menganggap kalau sudah diberi HP yang bermerk atau fasilitas lainnya sudah merasa terlaksananya kewajiban sebagai orang tua terhadap anak.

Nah, fenomena inilah yang kadang semakin bertambahnya beban bagi seorang guru, sebab keberhasilan anak didik tidak terlepas dari perhatian orang tua.

Sehebat apapun seorang guru tanpa sokongan orang tua mustahil kompetensi anak didik dapat berkembang, imbasnya anak didik mengaktualisasikan dirinya dengan hal-hal diluar kewajaran. Potensi yang ada pada diri anak tidak berkembang dan bahkan akan musnah dikilas oleh waktu.

Banyak bukti menunjukkan bahwa komunikasi yang positif antara guru dan orangtua sangat membantu anak dalam belajar dan meraih kesuksesan. Sebaliknya, jika komunikasi tidak terbangun dengan baik, maka akan ada kisah guru dituntut oleh orangtua muridnya, dan sebagainya.

Salah satu yang sangat penting dievaluasi adalah hubungan antara guru dan orangtua. Seorang guru kadang juga melakukan kesalahan. Orangtua siswa kadang melakukan kesalahan juga. Masing-masing memiliki perspektif dan cara berpikir yang berbeda. Biasanya, orangtua memiliki cara pandang yang berbeda dalam penegakan disiplin dengan sekolah. Akibatnya, terjadilah komplain, dan sebagainya.

Jika tidak dikelola dengan baik, komplain akan berubah menjadi protes. Ini sangat tidak perlu. Jika terus berbeda pandangan dan tidak ada penyelesaian masalah, maka korbannya adalah anak itu sendiri.

Komplain merupakan bagian dari proses pembelajaran. Ingat, jika anak mengetahui apa yang kita lakukan, maka anak akan belajar cara menyelesaikan masalah.

Maka, baik sekolah maupun orangtua dalam menyampaikan komplain dan menyelesaikan permasalahan harus sangat kooperatif dan bijak agar ada titik temu di antara keduanya.

Manjaga kebersihan sekolah, salah satu pembentukan karakter siswa

Diskusi antara guru dan orangtua sangat diperlukan. Mereka harus menjadi partner dalam mendidik anak. Karakter khas anak yang dimilikinya sejak kecil harus sampai ke telinga guru agar cara memperlakukan anak tersebut bisa tepat. Bagaimana memperbaikinya, menumbuhkan, memperkuat, dan kemudian mengembangkan karakter yang sudah bagus.

Ketika seorang guru memiliki keahlian dalam mengajar di sekolah, maka orangtua sangat ahli dalam memahami anaknya. Orangtua mendampinginya sejak kecil, maka orangtua lebih tahu tentang karakter, kebiasaan, gaya belajar, kecenderungan, dan sifat-sifat anaknya. Dengan kondisi seperti ini, menyerahkan seluruhnya kepada sekolah tentang persoalan anak bukanlah pilihan yang baik.

Sekali lagi, terlibat dalam pendidikan anak sangat bermanfaat bagi anak itu sendiri.

Hubungan antara guru, siswa dan orang tua selalu “sulit untuk diungkapkan”. Kita telah melihat banyak sekali status “spesial” antara mereka bertiga. Misalnya siswa takut akan guru (atau sekolah), orang tua menyogok guru, orang tua memaksa siswa, siswa bertengkar dengan orang tua. Ini adalah bentuk hubungan yang tak sehat.

Mari kita bahas hubungan ini dan mencari cara membangun komunikasi segitiga baru yang sehat.

Pertama-tama, sekolah dan guru tak dapat dipisahkan. Mereka adalah suatu kesatuan dan harus mendapat perlakuan yang sama. Saat suatu keluarga memilih sebuah sekolah, artinya mereka telah setuju dan percaya dengan gagasan mengajar di sekolah tersebut, menyetujui bahwa guru mengikuti gagasan yang sama, dan bahwa guru mewakili sekolah untuk berkomunikasi dengan orang tua.

Jadi, jika ada orang tua yang tak setuju dengan seorang guru, maka dia harus langsung berkomunikasi dengan pihak sekolah, lalu pihak sekolah akan memutuskan apakah guru tersebut perlu melakukan perubahan atau tidak. Sementara itu, orang tua juga tak boleh memuji atau menyogok guru agar anak mereka mendapat “perhatian khusus”. Tugas guru adalah mengajar dan memperlakukan setiap siswa dengan setara.

Orang tua harus mendukung sekolah. Karena telah memilih sekolah yang disukai oleh orang tua dan anak, maka orang tua harus berusaha sebaik mungkin untuk mendukung sekolah tersebut. Dukungan yang dimaksud di sini bukan hanya sekedar menyetujui arah dan metode pengajaran di sekolah, tapi yang lebih penting adalah memenuhi permintaan sekolah, mengawasi pembelajaran anak saat ekstrakurikuler, serta turut serta secara aktif dan mengetahui perkembangan terbaru di sekolah. Jika memungkinkan, orang tua juga bisa bergabung dengan komite sekolah.

Para orang tua siswa di sekolah SDN 21 Palu mempunyai sebuah grup WA untuk masing-masing kelas, anggotanya orang tua, kepsek dan wali kelas. Di grup ini, kami saling bertukar kabar tentang pengumuman/aktivitas sekolah dan perubahan kelas.

Jika ada orang tua yang mengalami masalah dengan sekolah, mereka juga bisa mengirim pesan di grup ini dan berdiskusi dengan para orang tua lainnya. Beberapa orang tua mengeluh tentang manajemen sekolah yang buruk dan pemimpin yang tak bertanggung jawab, tapi tak banyak orang tua yang setuju dengan hal ini.

Mayoritas orang tua lebih memilih untuk mendukung pihak sekolah, memecahkan masalah, dan percaya bahwa tak ada gunanya untuk mengeluh. Saya bisa melihat dukungan dan kerjasama yang dibutuhkan antara sekolah dan orang tua. Jadi, saya menyukai atmosfer baik yang diciptakan oleh kedua belah pihak.

Siswa menyukai sekolah, mempercayai orang tua dan guru. Jika ada anak yang tak suka pergi ke sekolah, maka dia pasti tidak menyukai sekolah tersebut, atau tidak menyukai gurunya. Menurut saya, orang tua harus menanggapi hal ini dengan serius, karena anak hanya bisa belajar dengan baik jika mereka menyukai sekolah dan guru mereka.

Respek tak hanya terucap lewat mulut saja. Orang tua harus mengajari anak untuk menghormati guru dan profesi mereka. Orang tua harus berdiri di sisi yang sama dan mempunyai tujuan yang sama dengan guru, bukannya mengeluh atau mengkritik guru. Anak tak perlu memilih antara orang tua atau guru. Anak seharusnya bisa mempercayai sekolah dan orang tua, dan percaya bahwa mereka dapat memperoleh bantuan dari kedua orang tua dan guru, jika dibutuhkan.

Orang tua dan guru harus mendidik siswa dengan usaha bersama. Dunia pendidikan modern membutuhkan lebih banyak partisipasi orang tua. Hal ini telah terbukti dan merupakan pemandangan umum di makin banyak tempat. Sekolah dan orang tua adalah teman, dan mereka harus bekerjasama untuk mendidik anak di berbagai aspek berbeda, baik di sekolah maupun di rumah.

Pembelajaran bukan lagi suatu hal yang yang mandiri. Kini, saat mempelajari suatu pengetahuan, anak juga harus mendapatkan perkembangan menyeluruh atas semua jenis ketrampilan dan soft power. Akibatnya, mustahil bagi sekolah untuk mengajarkan semua aspek ini pada siswa. Anak hanya bisa mendapatkan pendidikan dan perkembangan semua aspek jika ada kerjasama yang harmonis antara orang tua dan sekolah.

Terakhir, siswa dan orang tua harus mempunyai hubungan orang tua-anak yang erat. Orang tua adalah sosok yang paling bisa diandalkan serta latar belakang yang kuat bagi anak, dan jenis hubungan akrab seperti ini harus selalu dijaga. Jika anak melakukan kesalahan, orang tua tak boleh bertindak bagai guru dan menyalahkan anak. Anak harus bisa merasakan rasa hormat dan kasih sayang dari orang tua mereka.

Banyak orang tua yang mengeluh dan merasa frustasi saat membantu anak mengerjakan PR. Meskipun bukan hal mudah, tapi orang tua harus bisa melihat hal ini dari sisi anak: Sulit halnya bagi mereka untuk mengingat kembali hal yang mereka pelajari di pagi hari dan menyelesaikan PR berkualitas tinggi. Sebagai orang tua anak, seharusnya memberikan dukungan emosional dan membantu saat mereka kesulitan. Jangan sampai kehilangan kesabaran atau menyalahkan anak. Jauh lebih penting untuk membangun hubungan orang tua-anak dibanding mengoreksi kesalahan matematika mereka.

Jika sekolah, orang tua dan anak bisa membentuk hubungan yang sehat dan positif, maka anak akan mendapatkan lebih banyak bantuan, akan mempunyai kehidupan sekolah yang menyenangkan, dan mempunyai hubungan yang akrab dengan orang tua mereka.

Komunikasi antara guru dan orangtua sangat penting. Kesalahan dalam berkomunikasi bisa saja menyebabkan kesalahpahaman. Maka, guru perlu menyampaikan cara dan gaya komunikasinya.Ikhsan/kareba.id/2019.

*)penulis adalah kepsek SDN 21 Palu

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: