Take a fresh look at your lifestyle.

IDENTITAS BUDAYA LOKAL DIMUNCULKAN

340

PALU, KAREBA.id | Drs Hidayat Msi selaku Walikota Palu mengeluarkan kebijakan kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkungannya untuk memakai Siga (Penutup kepala etnis Kaili) bagi pegawai Laki-laki dan Sampolu bagi perempuan setiap hari Kamis sejak pekan yang lalu.

Hal itu dilakukan untuk memunculkan identitas lokal di Kota Palu, seperti halnya beberapa daerah yang kita ketahui.

Instruksi Walikota tersebut, tertuang dalam surat edaran (SE) Nomor 025/444/Disbudpar/2017 pada 22 Februari 2017, sehingga setiap Kamis seluruh ASN diwajibkan memakai Siga dan Sampolu serta dipadukan dengan pakaian batik motif Bomba.

“Diharapkan seluruh ASN bisa mentaati instruksi itu sehingga identitas kota kita perlahan-lahan bisa terlihat. Ini juga merupakan upaya pemerintah kota untuk lebih menonjolkan budaya lokal,” terangnya.

Sementara itu, Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palu, Sudaryano Lamangkona mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi kebijakan Walikota tersebut. Dia bersama pihaknya berusaha mensosialisasikan kepada seluruh ASN dilingkup pemerintah Kota Palu.

“Ini merupakan wujud implementasi visi dan misi Wali Kota Hidayat dan Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said yakni menjadikan Palu sebagai kota jasa yang berbudaya dan beradat dilandasi Iman dan Taqwa,” urai Anno.

Ditambahkannya, kebijakan itu juga merupakan upaya untuk melestarikan budaya dan adat masyarakat suku Kaili, sebagai salah satu suku terbesar di kota Palu provinsi Sulawesi Tengah, sehingga ASN bisa lebih memahami mengenai budaya dan adat Kaili.

Sementara, Sekertaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Palu, Arsid Nurdin memaparkan terkait surat edaran itu, menurutnya jika budaya dan adat yang ada di Tanah Kaili terus dipertahankan, sudah pasti masyarakat akan hidup saling menghargai satu dengan lainnya, mengasihi dan gotong royong.
“Pola hidup bermasyarakat akan kembali seperti dahulu. Saling mengharagai dan gotong royong antara sesama,“ katanya.

Arsid juga mengatakan, kebijakan Walikota itu secara tidak langsung telah ikut mempromosikan kepada warga lainnya, termasuk wisatawan mancanegera tentang budaya yang ada di Kota Palu.
“Selain itu, kebijakan itu berdampak kepada pengrajin tenun di kota ini,” sebutnya. OLAGONDRONK/KAREBA.id/2017

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: