Take a fresh look at your lifestyle.

Karapan Sapi, Adu Cepat dan Gengsi

196

Sigi-KAREBA.ID I Terik matahari yang menyengat tubuh seolah tak menyurutkan minat masyarakat meramaikan adu balap sapi. Begitu bendera start dikibarkan, para joki pun memacu sapinya sekencang mungkin.

Serunya karapan sapi ditingkahi pula dengan sorak-sorai para penonton maupun suporter masing-masing.

Sebanyak 125 pasang pasang sapi meramaikan lomba karapan sapi dalam rangka Hari Pahlawan 2020 di Lapangan Desa Baliase, Marawola, Sigi Sulawesi Tengah.

Karapan sapi ini berlangsung selama dua minggu, mulai Rabu (11/11) sampai Selasa (24/11) yang dibagi ke dalam dua kategori, karapan mini compo (pemula) dan karapan bergengsi (besar).

Kelas bergengsi diikuti 35 pasang sapi, sedangkan mini compo sebanyak 90 pasang.

Namanya juga perlombaan bergengsi, tentunya, ada yang memanfaatkan karapan sapi sebagai ajang taruhan. Boleh dibilang, karapan sapi adalah juga dunia bagi para penjudi.

Para petaruh ini sudah mulai meramaikan bursa taruhan dengan bergerombol di garis finish. Mereka bertaruh tentang sapi siapa yang memiliki kecepatan paling tinggi dalam adu cepat hewan memamahbiak ini.

Panjang rute mencapai 300 meter umumnya ditempuh dalam waktu 16 hingga 18 detik. Waktu yang sangat tipis selisihnya, memang. Di saat-saat seperti inilah, pasar taruhan akan meningkat tajam dan tak jarang memicu ketidakpuasan.

Hujan protes seperti ini muncul bila salah satu kelompok suporter maupun kontingen menganggap keputusan juri tidak adil dan dinilai memenangkan peserta tertentu.

Panitia pun sigap dengan memasang kamera di garis finish dan menayangkan hasil di televisi layar lebar.

“Agar semua pihak puas dengan hasilnya,” kilah ketua panitia, Sudirman, usai acara penutupan lomba di Desa Baliase Marawola, Selasa (24 November 2020).

Hujan protes peserta dilayani dengan menampilkan hasil rekaman (FOTO: IKHSAN MADJIDO)

Memang, selisih waktu pencapaian ke garis finis yang hanya berbilang detik selalu menjadi kambing hitam dan diprotes para peserta yang kalah.

Uniknya, bagi peserta yang kalah, mereka masih diberi kesempatan mengikuti pertandingan ulang. Tentunya, melawan peserta-peserta yang kalah lainnya untuk memperebutkan juara kalah.

Namun, jauh hari sebelum perlombaan dimulai, para pemilik sapi mesti mempersiapkan segala sesuatunya. Sapi-sapi mesti dipersiapkan secara khusus dan perawatan yang teramat istimewa.

Persiapan yang dilakukan Sukman asal Bambarimi Donggala, misalnya. Sebulan menjelang karapan, Sukman memberikan perlakuan khusus bagi kedua sapi jantan miliknya yang akan diperlombakan dalam karapan sapi di Desa Baliase itu.

Selama sebulan, dua ekor sapi milik Sukman yang diberi nama Cantik Manis ini benar-benar dimanja atau diperlakukan khusus. Porsi makanan dan minuman pun dilipatgandakan.

Untuk menambah stamina dan kecepatan, setiap dua hari sapi berenang di sungai dekat Bambarimi.

Sukman juga memandikan kedua sapinya empat kali sehari. Padahal biasanya hanya sehari dua kali.

Setiap memandikan, Sukman tak lupa melumuri tubuh Cantik Manis dengan ramuan tertentu. Ramuan ini diyakini berfungsi untuk mengendurkan otot-otot sapi agar tak gampang mengalami stres menjelang pertandingan nanti. Jamu-jamuan tradisional pun diracik dan diminumkan kepada sang sapi.

Racikan itu ditambah pula dengan 50 butir telur per hari.

“Semua itu dipercaya dapat melipatgandakan daya tahan tubuh sapi,” timpal Rui pemilik sapi Bintang Kalbu asal Kalukubula Sigi.

Buat membentuk tubuh sepasang sapi karapan yang kekar dan memiliki daya tahan tubuh yang prima, Rui mengaku mengeluarkan biaya sekitar Rp 2 juta per bulan. Jumlah duit sebanyak itu memang sebanding bila sepasang sapi miliknya keluar sebagai juara, yakni suatu kebanggaan atau prestise.

Keluar sebagai jawara merupakan saat yang paling membahagiakan bagi si pemilik sapi. Selain segepok uang dan satu ekor sapi bagi yang juara pertama, nilai sapi miliknya otomatis meningkat.

Maklum, nilai jual sepasang sapi pemenang lomba biasanya meningkat tajam dibandingkan harga beli sebelumnya. Bahkan, tak sedikit sapi pemenang lomba yang ditawar hingga puluhan juta rupiah per ekornya. Jumlah yang menggiurkan pastinya.***

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: