Take a fresh look at your lifestyle.

Mau Pensiun Muda ?

359

JAKARTA, KAREBA.ID | Pensiun di usia muda telah menjadi cita-cita kebanyakan generasi milenial. Semua bermula dari kengerian membayangkan kondisi tua renta dan sakit-sakitan, setelah tenaga di usia muda habis-habisan mengurusi pekerjaan.

Siapa yang tak ingin bebas dari tekanan pekerjaan, ketika usia masih muda dan badan bugar untuk bisa traveling ke penjuru dunia? Tentu jadi dambaan semua orang.
Untuk bisa menjalani pensiun muda dengan bahagia, mengutip Business Insider, ada dua hal yang harus diperhatikan. Jika tak siap dengan keduanya, pertimbangkan untuk berhenti kerja sejauh kemampuan produktivitas kita masih ada.
1. Gaya Hidup
Persoalan gaya hidup menjadi penting untuk memutuskan kapan saat yang tepat bagi kamu untuk pensiun muda, karena juga menentukan biaya hidup sehari-hari. Biaya hidup di perkotaan seperti Jakarta, Bandung, Medan, atau Surabaya, tentu lebih mahal jika dibandingkan di daerah.
Pilihan di kota mana kamu tinggal, menentukan besaran biaya yang kamu butuhkan untuk menjalani pensiun muda. Secara berkala Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan Survei Biaya Hidup (SBH), atas kota-kota di Indonesia. Sayangnya, survei terbaru sedang dilakukan pada 2018 ini.Tabungan Saja Tak Cukup untuk Bisa Pensiun dengan Bahagia
3 Kiat Mencari Uang dengan Senang Bagi Milenial
Belajar Investasi Reksa Dana Lewat Komik ‘Si Juki vs Dompet Kosong’
Mengacu data SBH terakhir, yang dilakukan BPS terhadap 82 kota sampel di Indonesia pada 2012, Jakarta merupakan kota dengan biaya hidup termahal. Biaya hidup di Jakarta rata-rata Rp 7.500.726 per bulan dengan rata-rata anggota rumah tangga 4 orang.
Sedangkan Banyuwangi merupakan kota dengan biaya hidup terendah, yakni Rp 3.029.367 per bulan, dengan rata-rata anggota rumah tangga yang sama. Kota dengan biaya hidup moderat atau sedang-sedang saja, di antaranya Padang dan Bukittinggi, Tangerang dan Cilegon, Watampone, serta Bandar Lampung.
2. Pendapatan Investasi (Passive Income)
Memilih pensiun muda karena ingin bebas dari tekanan pekerjaan, tentu ada konsekuensinya. Kamu tak memiliki penghasilan rutin dari gaji atau hasil usaha. Padahal, berbagai kebutuhan masih harus dipenuhi biayanya.
Tak ada pilihan, kecuali kamu harus punya investasi atau passive income, yang bisa membiayai beragam kebutuhan hidup. Karenanya meski sudah pensiun, bukan berarti bisa bebas dan tak mengurusi portofolio investasi tersebut.
Apapun investasi yang dipilih, yang pasti imbal hasilnya harus bisa menutupi kebutuhan. Sementara pokoknya tetap jangan sampai terganggu, syukur-syukur justru terus bertambah. Jadi seberapa besar imbal hasil yang harus kamu dapat untuk membiayai kebutuhan di masa pensiun, sangat bergantung pada gaya hidup yang dijalani.
Investasi yang paling minim risiko adalah dana pensiun atau deposito. Tentu saja semakin kecil risiko sebuah investasi, sebegitu pula hasil yang didapat. Untuk properti, tentu jenisnya harus yang bisa memberikan pendapatan rutin seperti kos-kosan atau penginapan. Saham atau reksa dana, bisa menjadi pilihan investasi lainnya, meski kinerjanya dipantau secara cermat.kumparan/kareba.di/2018

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: