Take a fresh look at your lifestyle.

Mengenal Seni Kamoro Dan Indonesia Timur di Pendopo

269

JAKARTA, KAREBA.ID | Indonesia sungguh kaya akan ragam budaya. Bila seseorang ingin mengoleksi benda-benda etnik dari tiap suku yang ada, maka ia setidaknya harus mengumpulkan 700an item, sesuai banyaknya suku di Nusantara. Namun tidak semua karya seni dan budaya suku-suku itu mudah diperoleh. Beberapa karena jumlahnya terbatas, sebagian lagi karena untuk mendapatkannya orang harus pergi ke pedalaman yang acapkali medannya tidak mudah.
Salah satunya adalah karya seni suku Kamoro yang mendiami daerah di sekitar pesisir selatan Papua, di Kabupaten Mimika. Karya paling terkenal dari suku ini adalah seni pahat kayu yang khas, serupa dengan karya suku Asmat, namun memiliki ciri khusus. Dahulu berbagai jenis patung, perisai, tongkat dan totem milik suku Kamoro digunakan dalam berbagai upacara adat dan ritual. Namun kini beberapa anggota suku membuatnya untuk dijual. Masalahnya, sekali lagi, mendapatkannya tergolong sulit karena perkampungan suku ini tidak gampang dicapai.

Nah, untuk memudahkan penjualan karya seni sekaligus memperkenalkan budaya suku ini, gerai Pendopo di Living World Alam Sutera menyelenggarakan Festival Indonesia Timur yang mengangkat karya-karya dari Nusa Tenggara Timur dan Papua, termasuk dari suku Kamoro. “Kami menampilkan berbagai tenun dari Indonesia Timur yang bisa digunakan sehari-hari, hingga aneka ukiran Kamoro yang bisa dipakai untuk dekorasi dan mempercantik ruang,” ujar Nana Puspa Dewi, marketing director Kawan Lama Grup saat membuka festival pada Jumat, 3 Agustus 2018 di Alam Sutera.
Menurut Nana, sepanjang bulan Agustus ini pengunjung bisa melihat dan membeli berbagai karya tenun dari Sumba dengan motif-motif khas-nya seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, serta tenun Flores dengan ragam hias geometris dengan warna cerah. Kain-kain ini dibuat dengan teknik tradisional dan melalui proses yang panjang hingga 3-6 bulan, menggunakan pewarna alam.

Pahatan berbentuk buaya dari suku kamoro. photo kompas/kareba.id/2018

Selain itu, pada hari Sabtu dan Minggu (4 dan 5 Agustus), pengunjung bisa melihat penampilan musik dan tarian Kamoro, workshop mengukir kayu, hingga mencoba kopi Flores dan Papua. Ukiran Kamoro yang terbuat dari kayu, bambu, hingga tulang juga bisa dimiliki. Adapun ragamnya mulai dari Yamate atau perisai yang dahulu dipakai berperang atau tarian, namun indah digunakan sebagai hiasan dinding. Ada juga Eme, alat musik tradisional yang terbuat dari batang pohon utuh. Yang tak kalah menarik adalah berbagai patung yang menggambarkan manusia, leluhur, hewan-hewan setempat seperti ikan dan buaya, atau pahatan berhias daun dan bunga. Patung-patung ini dibuat dalam waktu mingguan hingga bulanan dengan tangan. Uniknya ada patung hewan mitologi seperti naga yang dibuat oleh suku Kamoro. “Kami juga mengenal hewan-hewan ini dalam budaya Kamoro,” ujar Herman Kiripi, salah satu anggota suku yang ikut festival.

Herman adalah salah satu warga suku yang masih melanjutkan tradisi memahat kayu. Menurutnya, tidak semua orang Kamoro melanjutkan tradisi ini. Umumnya para pemahat adalah anak atau keturunan pemahat juga. “Jadi memang tidak semua orang membuat ukiran. Saya dan beberapa teman masih melanjutkan tradisi ini dan mengajarkan pada anak-anak muda agar mereka bisa,” ungkap Herman yang tampil dengan pakaian tradisional sukunya. Dengan adanya festival ini, diharapkan masyarakat mengenal berbagai budaya yang ada di Indonesia, terutama yang selama ini tidak dikenal, padahal memiliki keindahan luar biasa. “Kami berharap dengan acara ini masyarakat dapat lebih mengenal budaya Indonesia Timur seperti dari suku Kamoro ini,” ujar Luluk Intarti, pendiri Yayasan Maramowe yang menaungi budaya Kamoro.kompas/kareba.id/2018

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: