Take a fresh look at your lifestyle.

Om Dokter, Tak Mengenal Waktu Dalam Pengabdian

369

Sore itu dia terlihat kelelahan. Beberapa anak muda yang tergabung dalam Komunitas Om Dokter dan sejumlah pemerihati Lingkungan, pendidikan dan Kebudayaan di Yayasan Masangu Maroso (YMM) sudah menunggu kedatangannya. Iya, pagi hingga siang hari dia harus memeriksa sejumlah pasien ditempat kerjanya di Rumah Sakit Anutapura Palu, setelah itu harus mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako. Terkadang, malam harinya harus kembali bergelut di rumah sakit tempatnya bekerja dan sejumlah telpon dari beberapa pasien yang membutuhkannya.

Kalaupun lelah menghampiri, dia tak lantas mengeluh dan meninggalkan tugas utamanya melayani setiap pasien, karena dalam hatinya sudah tertanam ‘sesuatu’ yang mengharuskan dia memberikan setiap waktunya agar dapat bermanfaat bagi orang lain.

Dia, putra Kaili yang terlahir di Palu 17 Maret 1973, 43 tahun lalu. Dia merupakan satu-satunya specialis Patalogi Anatomi yang ada di Sulawesi Tengah. Dan saat ini menjabat kepala Unit Transfusi Darah di Rumah Sakit anutapura Palu.

Kali waktu, ia bersama sejumlah relawan dari YMM dan Komunitas Om Dokter, tepatnya Kamis 12 Januari 2017, sekitar pukul 16.00 Wita, dia memanggul sebuah tas belakang berwarna hitam dan menaiki sebuah sepeda motor matic. Mereka menuju salah satu lingkungan dicelah pegunungan sebelah Barat Kota Palu. Iya, tepatnya di Salena kelurahan Buuri kecamatan Ulujadi.

Disana dia bersama relawan Yayasan Masangu Maroso yang melakukan pendampingan setahun terakhir akan menggelarb pemeriksaan dan pengobatan kesehatan secara gratis, ide itu muncul dari Om Dokter saat diskusi bersama beberapa pemuda dan relawan YMM.

Tas hitam yang dipanggul Om Dokter itu ternyata berisi sejumlah obat-obatan yang sengaja dibeli dengan uang pribadinya untuk digunakan warga disana. Dia akan memeriksa kesehatan warga Salena karena sudah meniatkan sejak beberapa waktu lalu. Terlepas dari cerita lama, bahwa dia pernah bertugas disana beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2000 di Puskesmas Tipo.

Jalan berbatu dan menanjak menuju Salena tak menyurutkan niat Om Dokter mengabdikan dirinya. Menurut lelaki 43 tahun itu, berbuat sesuatu sesama manusia apalagi masyarakat didaerahnya sendiri yang kurang mampu memiliki kepuasan sendiri. Menyisihkan sedikit rezeki dan keberkahan dari lelahnya untuk membantu orang lain, telah lama ia lakoni. Maklum, latar belakang keluarganya memang termasuk suka berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain tanpa pamrih.

Om Dokter, panggilan akrab dr.Nirwansyah Parampasi, SP.PA menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri Kamonji 1 Palu Barat. Setelah itu ia menyelesaikan sekolah Menengah Pertama di SMP 1 Palu pada tahun 1988 dan melanjutkan ke SMU 1 Palu pada tahun 1991.

Setelah menyelesaikan sekolah di Kota Palu, ia melanjutkan kejenjang Strata 1 di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sulawesi Selatan pada fakultas Kedokteran dan mendapat gelar pada tahun 2000.

Menjadi sarjana kedokteran yang masih baru kala itu, Om Dokter akhirnya balik ke kota Palu dan memulai debut karirnya di Puskesmas Tipo sejak tahun 2000. Setahun kemudian dia pindah ke puskesmas Kamonji, dan mengabdi disana hingga tahun 2003.

Dua puskesmas tempatnya mengabdi sebagai dokter umum mengantar Om Dokter mendapat kepercayaan di Rumah Sakit Anutapura di tahun 2003 sebagai salah satu dokter muda disana.

Pada tahun 2011 dia berhasil menyelesaikan sekolah dokter spesialis Patalogi Anatomi di Universitas Airlangga di Surabaya dan mendapat gelar Spesialis Patalogi Anatomi (SP.PA) dan kembali mengabdi di RS Anutrapura Palu hingga saat ini.

Kesehariannya bergelut didunia medis tak membuatnya kehilangan waktu berjumpa dengan rekan maupun sahabatnya, pun keluarga juga. Dia selalu menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekat diluar kesibukannya sebagai dokter. Karena silaturahmi menurutnya selalu memberi keberkahan dan ketenangan bathin.

Jika tak ada kesibukan yang begitu emergency, biasanya dia  duduk menikmati secangkir kopi di ‘Klinik Kopi Om Dokter’ dibilangan jalan Cumi-Cumi Palu Barat sambil menunggu deringan telpon selularnya, untuk kembali bergelut dengan beberapa pasien yang membutuhkan keahliannya.

“Maaf, ada telpon, biasa dari pasien, saya keluar dulu e, tunggu saja disini saja, nanti balik lagi, baru kita diskusi lagi untuk membangun kota kita ini,”

demikian kata-katanya saat penulis sempat berdiskusi tentang pembangunan  kota Palu bersama sejumlah rekannya dari berbagai disiplin ilmu. olagondronk/kareba.id/2017

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: