Take a fresh look at your lifestyle.

Tokoh Masyarakat, Akademisi dan Mahasiswa Diskusikan ‘Agama dan Budaya’

487

Palu, KAREBA. ID | Majelis Kajian Ilmiah, Yayasan Wali Manis menggelar diskusi bulanan bertemakan “Agama dan Budaya’ dikediaman Walikota Palu Drs Hidayat MSi dibilangan jalan I Gusti Ngurahrai Palu, Senin 5 Agustus 2019, malam.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh masyarakat, akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Palu.

Wali kota Palu Drs Hidayat MSi yang didaulat sebagai narasumber menjelaskan, bahwa budaya yang ingin dibangun Pemerintah kota Palu melalui Visinya “Palu Kota Jasa Berbudaya dan Beradat Dilandasi Iman dan Taqwa” adalah budaya yang berbasis nilai.

“Ada tiga nilai yang kita ingin bangun, yaitu nilai kekeluargaan, kegotongroyongan, dan nilai toleransi. Ini yang kita akan bangun diseluruh aspek kehidupan masyarakat,” tegas Hidayat.

Sementara adat, menurutnya adalah aturan yang mengatur tatanan kehidupan manusia. Dimana, adat itu ada di kitab suci agama dan harus dipatuhi. Sementara Balia dan sebagainya, merupakan adat istiadat yang tidak harus dilaksanakan.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Palu, Dr. Sagir Amin menjelaskan adat merupakan kepingan kebudayaan yang bersifat lokal disebuah negeri. Kalau adat tidak dilaksanakan, katanya akan koyak negeri ini.

“Kebiasaan-kebiasaan manusia yang baik itu, penting kita jaga. Segala tradisi baik yang lahir dari pikiran harus kita lestarikan. Kalau tidak ada akal, agama mati,” terangnya membeberkan.

Ditempat yang sama, Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat, Ridwan Yalidjama mengatakan adat adalah benteng terkuat menjaga agama, karena masyarakat akan lebih takut ketika mendapat ancaman sangsi adat atau Givu.

Menurutnya, masyarakat saat ini terlalu cepat memvonis sesuatu, padahal mereka tidak tahu persoalan itu sesuai faktanya.

“Dulu perbedaan pandangan itu rahmat, tapi saat ini, perbedaan itu sesat,” katanya.

“Banyak manusia sekarang merasa pandai, bukan pandai merasa. Jangan mudah menyalahkan orang lain, karena kita belum tentu lebih baik dari orang lain,” katanya.

Ridwan mengatakan, yang sebenarnya diinginkan saat ini pascabencana gempa, tsunami, dan likuifaksi tanggal 28 September 2018 silam adalah memadukan antara budaya, adat, dan agama, bukan malah mempertentangkannya. olagondronk/kareba.id/2019

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: