Take a fresh look at your lifestyle.

Warga Sekitar Danau Poso Keberatan Soal Keinginan PT Poso Energi

394

Poso, KAREBA. ID | Puluhan warga desa dan kelurahan di kecamatan Pamona Puselemba kabupaten Poso menandatangani surat keberatan kepada Camat Pamona Puselemba yang sebelumnya mengeluarkan surat kepada para pemilik Keramba dan Pagar Sogili yang isinya memberi batas waktu menyelesaikan hingga 24 Mei 2019 untuk bernegosiasi dengan PT Poso Energi milik keluarga Jusuf Kalla.

Ketua adat kelurahan Pamona, Kristian Bontinge, mengatakan, keberatan mereka itu karena pembongkaran Waya Masapi atau pagar Sogili itu bisa menghilangkan salah satu tradisi masyarakat pinggir danau Poso yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Selain akan membongkar Pagar Sogili, untuk mengamankan pasokan air bagi PLTA, dalam rencananya, perusahaan juga akan menjadikan kawasan Kompodongi di kelurahan Tentena menjadi taman. Hal ini juga menjadi keberatan dari sejumlah warga. Sebagaimana dituturkan Hajai Ancura, warga kelurahan Sawidago yang masih aktif menangkap ikan di Kompodongi dengan cara Mosango.

Mosango adalah cara menangkap ikan secara bersama-sama dengan menggunakan Sango alat tangkap ikan berupa jalinan bambu dan lidi dari pohon Enau. Kompodongi adalah kawasan rawa seluas kurang lebih 4 hektar yang menjadi tempat berkembang biaknya ikan-ikan khas danau seperti ikan Mas. Ditempat ini setiap air danau surut, puluhan bahkan ratusan warga dari Sawidago, Tentena, Petirodongi, Tendeadongi dan daerah lain disekitarnya akan turun untuk Mosango.

Dikatakan Hajai, jika kawasan Kompodongi ditimbun dan dijadikan taman, maka budaya masyarakat juga akan tertimbun. Padahal Mosango menurut Hajai adalah salah satu cara orang-orang Pamona menjalin kebersamaan. Sebab dalam Mosango baik yang berhasil mendapatkan ikan maupun yang tidak mendapatkan ikan sama-sama senang.

“Karena yang penting itu menjaga kebersamaan, keakraban yang sekarang ini sudah semakin berkurang karena banyak orang sudah berkomunikasi lewat media sosial”kata Hajai. Selain menjadi tempat menjaga kebersamaan, rusaknya wilayah ini dikhawatirkan akan merusak eksosistem danau Poso.

Selain kekhawatiran rusaknya lingkungan, surat keberatan warga itu menurut Kristian Bontinge dan Hajai merupakan bentuk keprihatinan mereka akan hilangnya budaya orang Pamona sedikit demi sedikit.

Kristian Bontinge menegaskan, mereka sama sekali tidak berniat menghalangi pembangunan daerah. Namun berharap mereka yang hendak melaksanakannya memikirkan dampak-dampak sosialnya termasuk akan hilangnya kebudayaan di daerah itu. phian siruyu/kareba.id/2019

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish

%d blogger menyukai ini: