CALIFORNIA,  — Banjir dahsyat melanda berbagai benua tewaskan puluhan orang dan mengungsi ribuan lainnya minggu ini. California hadapi “pasang raja” banjiri Santa Barbara-San Francisco, Queensland Australia matikan 19.000 ternak, Sulawesi Utara tewaskan 14 orang. Ilmuwan salahkan perubahan iklim dan deforestasi perparah bencana cuaca ekstrem.

California Hadapi Pasang Raja Terburuk

California alami banjir parah akhir pekan akibat “king tides” gabung curah hujan tinggi. Satu orang tewas terseret sungai Santa Barbara County. Bandara Santa Barbara tutup landasan pacu tenggelam air banjir. San Francisco catat pasang tertinggi 2,56 kaki sejak 1998.

Wilayah pesisir Santa Barbara hingga San Francisco lumpuh. Pasang raja langka gabung atmosfer lembab sebabkan luapan sungai dahsyat. Pemerintah darurat kerahkan tim evakuasi dan pompa air besar-besaran.

Australia dan Indonesia Ikut Tergenang

Queensland Australia banjir besar tewaskan satu orang, 19.000 ternak mati/hilang. Pemerintah umumkan bantuan $38 juta pemulihan bencana. Sulawesi Utara banjir bandang Senin (12/1/2026) rampas 14 nyawa, enam orang hilang.

Bencana Indonesia lanjutkan tragedi Siklon Senyar Sumatra November 2025. Badai tewaskan 1.177 orang Indonesia, total 1.477 Asia Tenggara. Deforestasi 1,4 juta hektare Aceh-Sumatra 2016-2025 ubah hujan deras jadi bencana mematikan.

Prabowo Akui Deforestasi Perparah Banjir

Presiden Prabowo Subianto akui keterkaitan deforestasi dan banjir dahsyat. “Kita harus benar-benar cegah deforestasi dan perusakan hutan,” tegas Prabowo saat kunjungi daerah terdampak. Earthsight dan Auriga Nusantara temukan penebangan ilegal ratusan hektare hulu komunitas hancur.

University of British Columbia riset bukti penebangan habis tingkatkan banjir 18 kali lebih sering, dua kali lebih parah. Efek berlangsung 40 tahun meski reboisasi. Pertambangan, sawit, PLTA sebabkan lahan kritis Sumatra.

Iklim Bikin Hujan Ekstrem 9-50% Lebih Lebat

World Weather Attribution konfirmasi perubahan iklim kuatkan Siklon Senyar. Suhu laut Samudra Hindia 0,2°C di atas rata-rata. Tren hujan lebat naik 9-50% beberapa dekade terakhir. Udara hangat tampung 7% lebih lembab per °C pemanasan.

Badai nyata tingkatkan curah hujan 3-19% dari era pra-industri. Atribusi ilmiah: 70% dari 405 cuaca ekstrem lebih mungkin/parah akibat manusia. Tahun 2025 catat banjir/banjir bandang terbanyak sejarah.

Para ahli peringatkan panas laut tertanam pastikan risiko bencana meski emisi turun agresif. Deforestasi tropis gabung pemanasan global ciptakan “perfect storm” bencana. Negara rawan banjir butuh adaptasi darurat dan restorasi ekosistem skala besar.*/LIA