JAKARTA, KAREBA — KAREBA laporkan rupiah terhadap dolar AS tutup di level Rp16.860 pada Selasa (13/1/2026), terlemah dalam delapan bulan terakhir. Mata uang garuda itu depreciate 1,04% year-to-date meski menguat tipis ke Rp16.850 saat pembukaan Rabu. Investor asing lakukan beli bersih jumbo di BEI saat harga emas domestik cetak rekor ketiga berturut-turut.
Bank Indonesia terus stabilisasi nilai tukar. “Tekanan bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed,” jelas Erwin G. Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, pada Selasa. Sementara itu, defisit APBN 2025 capai 2,92% terhadap PDB bebankan sentimen domestik.
Analis Mayoo Financial prediksi skenario terburuk. “Rupiah secara teori dapat melemah hingga Rp17.000, bergantung pada respons Bank Indonesia,” ungkap Lukman Leong. Selain itu, ketidakpastian global picu safe haven flow ke aset emas. Harga emas Antam Antam tembus rekor Rp1,45 juta per gram untuk hari ketiga berturut-turut pada Rabu.
Investor asing justru net buy signifikan di BEI. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) catat asing borong saham blue chip senilai Rp2,5 triliun pada 13 Januari. Aktivitas ini kontras dengan tekanan rupiah. Namun, IHSG anjlok 0,58% ke level 8.884,72 pada 12 Januari akibat profit taking.
Pasar keuangan Indonesia hadapi dinamika kontras. Rupiah tertekan faktor eksternal kuat sementara emas jadi pilihan aman. BI intervensi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) untuk jaga stabilitas. Kemudian, Erwin Hutapea tekankan koordinasi fiskal-moneter cegah pelemahan berlebihan.
Lukman Leong sarankan strategi hedging. Investor disarankan alokasikan 10-15% portofolio ke emas fisik atau ETF. “Kombinasi emas dan saham defensif optimal hadapi volatilitas saat ini,” tambah analis berpengalaman itu. Meskipun begitu, pemulihan rupiah butuh sinyal dovish The Fed dan meredanya konflik geopolitik.
Bank Indonesia pantau ketat pergerakan selanjutnya. BI siapkan likuiditas valas tambahan jika tekanan berlanjut. Pasar antisipasi pengumuman kebijakan moneter Februari. Sementara investor asing manfaatkan valuasi saham Indonesia yang undervalued, rupiah butuh katalis positif untuk rebound signifikan.*/LIA