BEIJING, KAREBA – ByteDance resmi meluncurkan Seedance 2.0, sebuah model AI video multimodal yang mampu menghasilkan konten resolusi 2K dengan biaya operasional sekitar 1 yuan per detik mulai 05/03. Inovasi ini memicu gelombang protes dari industri kreatif global karena kemampuannya menghasilkan klip realistis tanpa izin hak cipta yang memadai.
Seedance 2.0 ByteDance hadir dengan arsitektur dual-branch diffusion transformer yang mendukung input teks, gambar, video, dan audio secara bersamaan. Pengguna dapat memasukkan hingga sembilan gambar dan tiga klip video untuk menghasilkan video berdurasi 15 detik yang memiliki audio sinkron secara otomatis.
Melalui platform cloud Volcengine, perusahaan menetapkan tarif API sebesar 46 yuan per satu juta token untuk pembuatan video murni. Skema harga ini membuat biaya produksi video AI menjadi sangat terjangkau bagi sektor e-commerce dan periklanan digital yang membutuhkan efisiensi tinggi.
“Keputusan raksasa teknologi Tiongkok ByteDance untuk merilis layanan video AI generatif Seedance 2.0 tanpa perlindungan hak cipta telah membanjiri internet dengan video pelanggaran dan harus segera dihentikan,” kata Keith Kupferschmid, CEO Copyright Alliance.
Kecaman serupa datang dari industri perfilman Amerika Serikat yang merasa terancam oleh teknologi Seedance 2.0 ByteDance tersebut. Pihak studio besar menyatakan bahwa penggunaan aset digital tanpa izin merupakan langkah mundur bagi perlindungan karya kreatif manusia di era digital.
“Tindakan ByteDance merupakan pelanggaran hak kekayaan intelektual Disney yang disengaja, meresap, dan sepenuhnya tidak dapat diterima,” kata Tim Hukum The Walt Disney Company.
Pihak serikat pekerja seni juga menyoroti bagaimana teknologi Seedance 2.0 ByteDance dapat menggantikan peran manusia dalam proses produksi film. Mereka mendesak adanya standar etika dan konsen yang lebih ketat terhadap penggunaan rupa aktor dalam konten buatan mesin.
“Pelanggaran ini melibatkan penggunaan suara dan rupa anggota kami tanpa izin. Hal ini tidak dapat ditoleransi dan merusak kemampuan talenta manusia untuk mencari nafkah,” kata pihak SAG-AFTRA.
Menanggapi polemik tersebut, manajemen ByteDance berjanji akan melakukan perbaikan pada sistem keamanan konten mereka. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk tetap mematuhi regulasi yang berlaku sambil terus mengembangkan inovasi teknologi video.
“ByteDance menghormati hak kekayaan intelektual dan telah mendengar kekhawatiran mengenai Seedance 2.0. Kami akan memperkuat pengamanan untuk mencegah pelanggaran hak kekayaan intelektual,” kata pernyataan resmi ByteDance.
Hingga saat ini, akses Seedance 2.0 ByteDance masih terbatas pada klien korporat melalui sistem antrean yang mencapai 6 hingga 8 jam. Meskipun sukses secara teknis dengan tingkat keberhasilan generasi di atas 90 persen, ekspansi internasional model ini masih tertahan isu legalitas.