RIYADH,  — Arab Saudi tingkatkan pengiriman minyak mentah ke Asia Timur setelah memangkas harga untuk bulan ketiga berturut-turut. Saudi Aramco jadwalkan kirim setidakaknya 9 juta barel lebih untuk Februari ke kilang di Jepang dan Korea Selatan. Langkah ini hadapi pasar global yang kebanjiran pasokan.

Keputusan Saudi Aramco turunkan harga jual resmi Arab Light ke Asia jadi premium $0,30 per barel di atas patokan Oman/Dubai. Harga ini turun dari $0,60 per barel pada Januari, level terendah dalam lebih dari lima tahun. Sementara itu, kilang di luar Tiongkok pesan volume lebih besar untuk antisipasi kebutuhan Februari.

Penurunan harga berkelanjutan ini tunjukkan kekhawatiran eksportir minyak terbesar dunia terhadap kelebihan pasokan. Produksi global tumbuh lebih cepat daripada konsumsi sepanjang 2025. Kemudian, harga minyak mentah Brent anjlok 18 persen tahun lalu dan capai sekitar $60 per barel awal Januari 2026.

Aramco juga potong harga semua jenis minyak mentah lain ke Asia sebesar $0,20 hingga $0,30 per barel. Perusahaan negara ini pangkas harga serupa untuk pengiriman ke Amerika Serikat dan Eropa. Meskipun begitu, keputusan ini sesuai ekspektasi kilang yang ramal penurunan $0,10 hingga $0,30 per barel.

OPEC+ pertahankan komitmen pembekuan produksi hingga kuartal pertama 2026. Delapan negara produsen utama, termasuk OPEC, Rusia, Irak, dan Uni Emirat Arab, tunda peningkatan output. Mereka sebut faktor musiman dan ketidakpastian ekonomi global jadi alasan utama. Selain itu, aliansi lepaskan 2,9 juta barel per hari ke pasar sepanjang 2025.

Analis survei Reuters perkirakan harga Brent rata-rata $61,27 per barel sepanjang 2026. Badan Energi Internasional proyeksikan surplus 1,3 juta barel per hari tahun ini. Namun, lembaga ini baru potong perkiraan karena permintaan lebih kuat dan pasokan berkurang dari negara ber-sanksi.

Keputusan penetapan harga Aramco pengaruhi 9 juta barel ekspor minyak Timur Tengah ke Asia setiap hari. Langkah ini jadi patokan bagi produsen lain di kawasan.

“Keputusan Arab Saudi memangkas harga seluruh minyaknya untuk semua wilayah menandakan kekhawatiran pasar condong kelebihan pasokan di kuartal pertama,” tulis OilPrice.com dalam analisisnya.

Arab Saudi tingkatkan pengiriman minyak Asia demi jaga pangsa pasar di tengah tekanan harga rendah. Kilang Asia respons cepat dengan pesan volume besar. Sementara itu, OPEC+ pantau dinamika permintaan musiman. Situasi ini picu volatilitas harga global di awal 2026.*/LIA