JAKARTA, KAREBA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan memangkas kuota produksi bijih nikel tahun 2026 menjadi 250-260 juta ton. Kebijakan ini menurunkan target hingga sepertiga dari 379 juta ton pada 2025.

Pengumuman tersebut memicu lonjakan harga nikel global mencapai US$18.600 per ton, tertinggi sejak pertengahan 2024.​

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyatakan penyesuaian kuota ini mengikuti kapasitas smelter domestik.

“Nikel kita sesuaikan dengan kapasitas produksi dari smelter. Kemungkinan sekitar 250 – 260 [juta ton],” kata Tri Winarno di Kementerian ESDM pada Rabu (14/1).​

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan kebijakan pangkas kuota bijih nikel 2026 bertujuan menyeimbangkan pasokan dan permintaan industri hilir.

“Kami akan sesuaikan dengan kebutuhan industri. Itu nikel. Dan kita mau bikin pemerataan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM pada Jumat (9/1).

Kebijakan ini muncul setelah produksi nikel Indonesia melonjak pesat. Negara ini kini menyumbang sekitar 60% pasokan nikel dunia, naik dari 31% pada 2020. Namun, kelebihan pasokan sebelumnya menekan harga hingga US$12.000 per ton. Kini, harga rebound tajam karena pembeli China ramai memborong, kata analis BMO Capital Markets.

Selain itu, kuota baru mempertimbangkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) melalui aplikasi khusus ESDM. Beberapa perusahaan dengan RKAB perpanjangan hingga 2026 tetap boleh beroperasi hingga Maret, setara 25% kuota 2025. Meskipun begitu, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) perkirakan permintaan domestik capai 340-350 juta ton pada 2026, melebihi kuota.​

Analis UOB Kay Hian Holdings, Benjamin Mikhael, menyatakan lonjakan harga ini belum pasti bertahan. “Tinggal tunggu pemangkasan produksi yang konsisten dan bermakna,” katanya kepada Bloomberg. Di sisi lain, harga tender bijih nikel Filipina ikut naik seiring sentimen bullish.

Kebijakan Indonesia pangkas kuota bijih nikel 2026 berpotensi balikkan pasar dari surplus menjadi defisit. Analis BMO perkirakan pemangkasan hingga 250 juta ton kurangi pasokan nikel hingga 700.000 ton. Harga nikel kini tembus US$17.000-18.000 per ton, jauh di atas rata-rata 2025 sekitar US$14.000 per ton.​​

Pemerintah harap kebijakan ini kendalikan harga dunia dan maksimalkan nilai sumber daya terbatas. Indonesia dominasi pasokan beri pengaruh besar pada dinamika harga global.*/LIA