AMERIKA SERIKAT, KAREBA – Microsoft dikabarkan tengah menggarap sebuah “super app” inovatif bernama Microsoft Super App Copilot yang dirancang untuk menyatukan seluruh alat kecerdasan buatan (AI) Copilot yang tersebar ke dalam satu antarmuka terpusat. Proyek ambisius ini diharapkan meluncur pada akhir musim panas 2026, bertujuan mengatasi fragmentasi dan meningkatkan adopsi AI di kalangan 450 juta pengguna Microsoft 365 di seluruh dunia.

Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap kebingungan pengguna dan tingkat adopsi Copilot yang masih di bawah 4,5% dari total pengguna Microsoft 365. Dengan slogan internal “Delivering one Copilot”, Microsoft berambisi untuk menyederhanakan pengalaman pengguna dan meningkatkan nilai yang dirasakan dari penawaran AI-nya. Super app ini akan menjadi pusat kontrol utama untuk semua fitur Copilot.

Microsoft Super App Copilot akan menggabungkan berbagai alat AI yang ada, seperti GitHub Copilot, Copilot chat, dan Copilot Cowork, ditambah fitur baru bernama Autopilot. Pengguna nantinya dapat dengan mudah beralih antara akun personal dan enterprise 365 Copilot melalui opsi toggle yang tersedia dalam aplikasi. Integrasi ini diharapkan membuat penggunaan AI lebih intuitif dan efisien.

Untuk memimpin proyek penting ini, Satya Nadella mempromosikan Jacob Andreou menjadi Executive Vice President Copilot pada Maret 2026. Andreou ditugaskan untuk menyatukan sisi konsumen dan enterprise dari Copilot menjadi satu produk yang kohesif. Peluncuran Microsoft Super App Copilot ditargetkan terjadi pada akhir Agustus hingga awal September 2026, meskipun beberapa elemen mungkin disebutkan dalam konferensi Build pada Juni 2026.

“Rencana untuk super app ini bisa saja berkembang dan belum final, namun idenya adalah untuk dapat menggabungkan Copilot milik pengguna ke dalam satu antarmuka terpusat, termasuk akun dari Microsoft 365 Copilot yang berfokus pada produktivitas,” kata dua orang sumber anonim yang mengetahui proyek ini kepada Fortune.

“Salah satu tugas utama Andreou adalah menyatukan sisi konsumen dan enterprise dari Copilot menjadi produk yang kohesif,” tambah sumber tersebut.

“Pelanggan telah menyatakan ketidakpuasan dengan kebutuhan untuk beralih di antara alat-alat Copilot Microsoft, dan perusahaan sangat ingin meningkatkan nilai Copilot yang dirasakan, menurut sumber tersebut,” ungkap laporan itu.

Microsoft menghadapi tekanan kompetitif yang ketat dari raksasa teknologi lain seperti Google (Alphabet), OpenAI, dan Anthropic yang juga gencar mengembangkan platform AI mereka. OpenAI, misalnya, berencana menggabungkan ChatGPT, Codex, dan browser web ke dalam satu platform terpadu, mirip dengan ambisi Microsoft Super App Copilot.

Kesenjangan antara investasi besar Microsoft sebesar $13 miliar (sekitar Rp204,1 triliun) di OpenAI dan tingkat adopsi Copilot yang rendah menuntut hasil nyata. Jika Microsoft Super App Copilot berhasil meningkatkan angka adopsi dari 4,5% menjadi 10% atau 15% dari 450 juta pengguna Microsoft 365, implikasi pendapatan akan sangat besar. Ini menunjukkan potensi keuntungan finansial yang signifikan bagi perusahaan.

Pasar merespons positif kabar ini, dengan harga saham Microsoft naik sekitar 5,5% pada Jumat, 28/05/2026. Sepanjang Mei 2026, saham Microsoft mencatat kenaikan 10,4%, menandai bulan terbaiknya dalam setahun terakhir. Ini mencerminkan optimisme investor terhadap arah strategi AI Microsoft.

Menanggapi proyek ini, Microsoft Corporation memilih untuk tidak memberikan komentar resmi. Meskipun demikian, pengembangan Microsoft Super App Copilot ini menandai langkah strategis perusahaan dalam upaya mendominasi pasar AI dan menyajikan solusi yang lebih terpadu bagi penggunanya.*/LIA