JAKARTA, KAREBA – Direktur Utama Bursa Efek (BEI), Iman Rachman, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Jumat (30/1/2026). Keputusan besar ini muncul sebagai bentuk pertanggungjawaban atas keruntuhan pasar modal selama dua hari terakhir yang menghapus nilai kapitalisasi lebih dari $80 miliar.

Krisis ini bermula saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 8 persen pada Rabu dan Kamis lalu. Angka tersebut menjadi catatan penurunan dua hari terburuk bagi bursa domestik sejak kiamat finansial Asia pada tahun 1998. Kondisi pasar yang tidak stabil bahkan sempat memicu penghentian perdagangan atau circuit breaker sebanyak dua kali.

Pemicu utama aksi jual masal ini adalah peringatan keras dari MSCI Inc. Lembaga penyedia indeks global tersebut mengancam akan menurunkan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar perbatasan (frontier market). MSCI menyoroti masalah mendasar terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta adanya dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak harga pasar.

“Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas peristiwa dua hari terakhir, saya dengan ini menyatakan pengunduran diri saya,” kata Iman Rachman kepada wartawan saat konferensi pers.

Ia berharap langkah ini menjadi jalan terbaik untuk memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Kondisi pasar semakin tertekan setelah raksasa perbankan investasi seperti Goldman Sachs dan UBS ikut memangkas peringkat ekuitas Indonesia. Investor asing terpantau menarik dana hingga $645 juta hanya dalam waktu dua hari.

Arus keluar modal ini pun berisiko membengkak hingga $7,8 miliar jika penurunan status oleh MSCI benar-benar terjadi pada Mei mendatang.

Menanggapi situasi darurat tersebut, Otoritas Jasa Keuangan bergerak cepat dengan memperketat regulasi. OJK memutuskan untuk menaikkan persyaratan free float bagi perusahaan tercatat dari 7,5 persen menjadi 15 persen guna meningkatkan likuiditas.

Selain itu, otoritas akan memeriksa lebih ketat afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5 persen untuk mencegah manipulasi harga.

Krisis di bursa saham ini juga memperparah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional secara luas. Gejolak ini terjadi di tengah pelemahan Rupiah yang sempat menyentuh angka 16.985 per dolar Amerika Serikat.

Pemerintah kini berupaya keras meyakinkan investor bahwa koordinasi dengan MSCI berjalan positif demi menghindari degradasi status pasar yang dapat memicu eksodus modal sistemik.*/LIA