BANGKOK, KAREBA. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul memastikan bahwa cadangan minyak Thailand berada dalam posisi aman selama 107 hari ke depan di tengah proses pembentukan pemerintah baru. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional saat konflik di Timur Tengah mulai memicu krisis harga energi global.

Menteri Energi Auttapol Rerkpiboon menjelaskan bahwa stok cadangan minyak Thailand masih akan bertambah dengan kedatangan kiriman baru pada bulan April dan Mei mendatang. Pemerintah tetap memantau distribusi energi secara ketat untuk memastikan kebutuhan domestik tidak terganggu oleh fluktuasi pasar dunia.

“Thailand punya cadangan minyak 107 hari, tambahan kiriman tiba April-Mei,” kata Auttapol Rerkpiboon, Menteri Energi.

Selain soal energi, PM Anutin mengumumkan bahwa susunan kabinet akan diserahkan kepada raja pada Senin besok untuk mendapatkan persetujuan. Jika berjalan sesuai rencana, pemerintahan baru dijadwalkan akan menyampaikan pidato kebijakan di depan parlemen pada periode 07/04 hingga 09/04.

“Negara akan punya pemerintah baru minggu depan, daftar kabinet diserahkan Senin untuk persetujuan raja,” kata Anutin Charnvirakul, PM Thailand.

Pemerintah baru menghadapi tantangan besar karena defisit dana minyak nasional telah mencapai 38 miliar baht atau setara dengan Rp18,56 triliun. Oleh karena itu, otoritas berencana menghentikan kebijakan cap harga minyak dan beralih ke skema pemotongan pajak serta subsidi konsumen yang lebih tepat sasaran melalui koordinasi dengan Kemenkeu setempat.

Untuk memperkuat ketahanan cadangan minyak Thailand, negara tersebut juga telah menjalin kerja sama pengadaan dari berbagai negara seperti Brasil, Nigeria, Kazakhstan, dan Azerbaijan. Kapal tanker milik Thailand dilaporkan masih bisa melewati Selat Hormuz dengan aman guna menjaga kelancaran pasokan hingga beberapa bulan ke depan.