WASHINGTON, KAREBA. Keamanan siber Amerika Serikat kembali terguncang setelah akun email Kash Patel diretas oleh kelompok peretas pro-Palestina, Handala, pada Jumat, 27/03. Aksi pembobolan ini dilakukan sebagai bentuk balas dendam atas penyitaan domain web milik kelompok tersebut oleh otoritas federal di pertengahan Maret lalu.

Para peretas berhasil membocorkan ratusan sampel korespondensi elektronik, foto pribadi, hingga dokumen riwayat hidup milik Direktur FBI tersebut ke situs gelap. Insiden email Kash Patel diretas ini sengaja dipublikasikan untuk meruntuhkan citra keamanan lembaga penegak hukum paling bergengsi di Amerika Serikat.

Menanggapi ancaman ini, pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah sayembara bernilai fantastis hingga 10 juta dolar AS atau setara Rp 170 miliar. Hadiah tersebut disiapkan bagi siapa saja yang mampu memberikan informasi valid mengenai identitas serta jaringan operasi kelompok peretas Handala.

Data yang dicuri mencakup lebih dari 300 email dari periode 2010 hingga 2019 yang berisi informasi sensitif mengenai komunikasi keluarga hingga dokumen pelaporan pajak pribadi. Meskipun email Kash Patel diretas, pihak intelijen menegaskan bahwa akun yang menjadi target adalah layanan Gmail pribadi dan bukan jaringan resmi pemerintah.

“FBI menyadari adanya aktor jahat yang menargetkan informasi email pribadi Direktur Patel, dan kami telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memitigasi potensi risiko yang terkait dengan aktivitas ini. Informasi yang dipertanyakan tersebut bersifat historis dan sama sekali tidak melibatkan informasi pemerintah,” kata Ben Williamson, Juru Bicara Biro Investigasi Federal AS.

Pihak Handala mengklaim serangan ini merupakan respons atas pengumuman sayembara dan penyitaan empat domain web utama mereka oleh Departemen Kehakiman AS. Sebelum peristiwa email Kash Patel diretas, kelompok ini juga diketahui pernah melumpuhkan sistem operasional perusahaan teknologi medis multinasional.

“Kash Patel, kepala FBI saat ini, yang pernah melihat namanya terpampang dengan bangga di markas besar lembaga tersebut, kini akan menemukan namanya di antara daftar korban yang berhasil diretas,” kata Pernyataan Resmi Kelompok Peretas Handala.

Peristiwa ini menjadi pengingat serius mengenai kerentanan aset digital pejabat tinggi negara di hadapan aktor siber yang terorganisir. Kini, otoritas keamanan di Washington terus berupaya memburu para pelaku sembari memperkuat perlindungan terhadap data pribadi para pejabat penting mereka.