JAKARTA, KAREBA — Fenomena Panic Buying BBM mulai terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai wilayah Indonesia pada Selasa (31/03). Warga terpantau mengantre panjang menyusul beredarnya isu penyesuaian harga bahan bakar nonsubsidi yang diprediksi berlaku mulai 1 April 2026.
Unggahan di media sosial X menunjukkan kepadatan kendaraan di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dan beberapa titik di Jakarta Timur. Meskipun pemerintah belum memberikan pengumuman resmi, kekhawatiran masyarakat terhadap lonjakan harga minyak dunia memicu antrean kendaraan hingga memadati badan jalan di beberapa lokasi strategis.
Selain di ibu kota, kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Sulawesi Selatan, mulai dari pesisir Bulukumba hingga pegunungan Enrekang. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengimbau masyarakat agar tetap tenang karena stok nasional dipastikan dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan harian.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan sinyal bahwa harga BBM nonsubsidi seperti RON 95 dan RON 98 memang berpotensi mengikuti mekanisme pasar. Hal ini disebabkan oleh harga minyak mentah dunia yang telah menembus angka US$115 per barel akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Gini. Di Peraturan Menteri ESDM tahun 2022 itu telah mengatur dua formulasi tentang harga BBM. Satu harga BBM industri dan satu non-industri. Kalau yang industri tanpa diumumkan pun dia terus terjadi berdasarkan harga pasar,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
“Jadi mau diumumkan atau tidak diumumkan dia akan mengikuti harga pasar. Itu yang industri. Apa itu definisi yang industri adalah bensin RON 95, RON 98 itu kan orang-orang yang mampu lah,” lanjut Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Pemerintah memastikan bahwa fenomena Panic Buying BBM ini tidak seharusnya terjadi karena stok BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tetap dijaga stabil. Arahan Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik demi melindungi daya beli rakyat kecil di tengah fluktuasi harga energi global.
Meskipun terjadi antrean di beberapa titik, aksi Panic Buying BBM ini belum bersifat masif secara nasional. Masyarakat diminta untuk tidak mudah terprovokasi oleh infografis hoax yang menyebutkan lonjakan harga hingga 80 persen dan tetap menunggu rilis resmi mengenai penyesuaian harga dari pihak Pertamina besok.