JAKARTA, KAREBA Gelombang penyebaran misinformasi perang buatan AI membanjiri berbagai platform media sosial sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas pada 28/02. Ratusan konten visual manipulatif ini sengaja diproduksi oleh berbagai pihak untuk memanipulasi opini publik dan meraih keuntungan viral.
Salah satu contoh nyata dari penyebaran misinformasi perang buatan AI ini adalah video palsu serangan rudal ke Tel Aviv. Video tersebut telah dibagikan dalam ratusan unggahan di media sosial dan ditonton hingga puluhan juta kali oleh pengguna di seluruh dunia.
Selain itu beredar juga klip palsu yang memperlihatkan gedung Burj Khalifa di Dubai terbakar. Ada pula manipulasi gambar satelit fasilitas radar Amerika Serikat di Qatar yang dikonfirmasi palsu oleh SynthID Google.
“Perang ini mungkin sudah memecahkan rekor tertinggi jumlah video dan gambar buatan AI yang viral selama sebuah konflik,” kata Shayan Sardarizadeh, Jurnalis Senior BBC Verify.
Untuk menekan laju misinformasi perang buatan AI, platform media sosial X mengambil langkah tegas pada 04/03. Kreator yang mengunggah video konflik bersenjata hasil rekayasa tanpa label yang jelas akan ditangguhkan dari program bagi hasil selama 90 hari.
“Dengan teknologi AI saat ini, sangat mudah menciptakan konten yang bisa menyesatkan orang,” kata Nikita Bier, Kepala Produk X.
Ahli digital menilai bahwa masifnya penyebaran misinformasi perang buatan AI sangat membahayakan proses verifikasi fakta di lapangan. Hal ini juga dinilai merusak upaya dokumentasi bukti nyata dari lokasi kejadian.
“Video palsu seperti ini merusak kepercayaan publik terhadap informasi terverifikasi di internet dan mempersulit dokumentasi bukti nyata,” kata Mahsa Alimardani, Ahli.
Kegagalan verifikasi bahkan terjadi pada chatbot Grok milik X yang sempat menyatakan video palsu Tel Aviv sebagai rekaman asli. Kondisi ini memperparah kebingungan informasi di tengah kekhawatiran warga global terhadap eskalasi konflik militer yang sedang berlangsung.