WASHINGTON, KAREBA – Presiden Donald Trump kini menghadapi dilema besar dalam menentukan arah Kebijakan Donald Trump terhadap Iran demi menyeimbangkan aksi militer agresif dengan stabilitas pasar keuangan Amerika Serikat.

Trump mengumumkan jeda serangan selama lima hari setelah sempat memberikan ultimatum 48 jam untuk membuka Selat Hormuz pada 23/03/2026. Langkah ini diambil guna mencegah gejolak ekonomi yang lebih dalam akibat potensi penutupan jalur energi dunia tersebut.

“Presiden Donald Trump tampak terbelah antara dua dorongan yang terkadang bertentangan mengenai Iran: mengambil tindakan berani untuk merombak tatanan global dan menjaga ekonomi AS serta pasar keuangan tetap stabil,” kata pengamat kebijakan luar negeri.

Penutupan Selat Hormuz dapat menghentikan 20 persen pasokan minyak dan LNG global yang berisiko memicu krisis energi terburuk sejak tahun 1970-an. Hal ini menjadi pertimbangan utama dalam Kebijakan Donald Trump agar Wall Street tetap kondusif.

Melalui akun media sosialnya, Trump menyebut telah melakukan pembicaraan produktif untuk mendinginkan suasana. Keputusan ini menunjukkan pola lama sang presiden dalam menggunakan tekanan maksimal sebelum bernegosiasi demi mengamankan kepentingan ekonomi di The White House.

Sejarah mencatat Trump sangat sensitif terhadap pergerakan pasar saham, seperti yang terlihat pada perang dagang China sebelumnya. Kini, Kebijakan Donald Trump kembali diuji untuk membuktikan apakah gaya America First miliknya bisa berjalan tanpa menghancurkan pertumbuhan ekonomi domestik.