DUBAI, KAREBA – Perang Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu fenomena diskon emas di Dubai hingga mencapai US$30 per ons di bawah patokan harga London. Gangguan logistik udara menyebabkan stok logam mulia terdampar di gudang sehingga pedagang terpaksa memangkas harga untuk memindahkan aset mereka pada Jumat (06/03).

Krisis ini bermula sejak akhir Februari 2026 setelah serangan misil yang mengakibatkan penutupan ruang udara Uni Emirat Arab secara parsial. Data dari Flightradar24 menunjukkan lebih dari 12.300 penerbangan telah dibatalkan secara global sejak konflik bersenjata tersebut pecah.

Sebagai pusat yang menangani sekitar 20 persen alur emas dunia, Dubai mengalami kelumpuhan pengiriman karena emas fisik biasanya diangkut melalui kargo pesawat penumpang. Upaya pengalihan rute melalui jalur darat ke Arab Saudi atau Oman dianggap terlalu berisiko tinggi bagi kargo bernilai besar di wilayah perbatasan.

“Daripada membayar penyimpanan dan pendanaan tanpa batas, pedagang memangkas harga untuk memindahkan logam yang terdampar,” kata seorang pedagang industri yang mengonfirmasi kondisi pasar saat ini.

Dampak disrupsi diskon emas di Dubai ini mulai merambat ke pasar Asia, khususnya India sebagai konsumen terbesar. Penyulingan besar mulai kesulitan mendapatkan bahan baku karena kontrak logistik baru mengalami kenaikan biaya yang sangat signifikan di tengah situasi perang.

“Pasokan dorĂ© kami sekitar 10 persen dari tambang di Timur Tengah telah terputus. Biaya logistik untuk kontrak baru dari tempat lain melonjak 60 hingga 70 persen sejak perang dimulai,” kata Samit Guha, CEO MMTC-PAMP.

Meskipun stok di India saat ini masih mencukupi berkat impor besar pada awal tahun, kekhawatiran jangka panjang tetap membayangi pasar fisik. Jika konflik terus berlanjut, fenomena diskon emas di Dubai diprediksi akan menciptakan ketidakseimbangan harga antara pasar fisik dan bursa berjangka global.

“Saat ini, stok masih melimpah, tapi jika ini berlarut-larut beberapa bulan, maka akan ada masalah,” kata Chirag Sheth, Principal Consultant untuk Asia Selatan di Metals Focus.