WASHINGTON, KAREBA – Pemimpin Minoritas Senat Amerika Serikat (AS), Chuck Schumer, menyebut Donald Trump sebagai dalang di balik melonjaknya harga bensin AS yang mencapai hampir 75 persen dalam sebulan terakhir. Kenaikan drastis ini dipicu oleh eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran yang mengganggu pasokan minyak global di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026.
Rata-rata nasional harga bensin AS saat ini berada di angka USD 3,94 per galon atau sekitar Rp 63.040 dengan kurs Rp 16.000 per dolar. Padahal, sebulan sebelumnya harga masih tercatat sebesar USD 2,93 per galon, yang menandakan kenaikan sekitar 90 sen hanya dalam waktu singkat.
“Sebulan yang lalu, harga bensin nasional adalah USD 2,93 per gallon. Hari ini USD 3,94. Satu orang yang harus disalahkan: Donald Trump,” ujar Chuck Schumer, Pemimpin Minoritas Senat AS (Partai Demokrat), dalam unggahan di platform X pada Selasa (24/03/2026).
Analis pasar memprediksi harga bensin AS masih akan terus merangkak naik hingga menembus angka USD 4,10 per galon pada pekan depan. Gangguan distribusi minyak mentah akibat ketegangan militer di Timur Tengah membuat harga minyak jenis WTI kini melampaui USD 100 per barel.
“Sekarang tampaknya harga bensin akan mencapai USD 4 per gallon minggu depan, dan bisa menuju USD 4,10 per gallon dan seterusnya,” kata Patrick De Haan, Analis GasBuddy.
Berdasarkan survei terbaru dari Morning Consult, sebanyak 48 persen warga Amerika Serikat menyalahkan Donald Trump atas kondisi ekonomi ini. Sementara itu, 16 persen responden lainnya menunjuk perusahaan minyak sebagai pihak yang bertanggung jawab atas lonjakan biaya bahan bakar tersebut.