JAKARTA, KAREBA – Pemerintah Indonesia mengakui kalah bersaing dengan Malaysia menarik investasi raksasa teknologi NVIDIA untuk membangun pusat data kecerdasan buatan (AI). Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menyampaikan hal ini pada Jumat (9/1/2026) di Wisma Danantara, Jakarta. Kekurangan tenaga ahli magister dan doktor bidang komputer menjadi faktor utama keputusan NVIDIA.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan, menjelaskan observasi NVIDIA.
“Mereka memilih Malaysia salah satunya karena mereka mendata berapa master, berapa PhD yang tersedia di Indonesia dan di Malaysia sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Nurul Ichwan pada Jumat.
Sementara itu, Malaysia unggul dengan lebih banyak lulusan doktoral dan magister di bidang komputer. Namun, Indonesia masih berupaya mengejar ketertinggalan ini.
Kesenjangan SDM Teknologi Jadi Penyebab Utama
NVIDIA memilih Malaysia setelah mengoperasikan pusat data AI di Johor pada Oktober 2025. YTL Power International membangun fasilitas itu dengan investasi RM10 miliar atau setara USD 2,36 miliar. Selain itu, pusat data tersebut menggunakan GPU NVL72 Grace Blackwell (GB200) terbaru. Fasilitas ini mendukung pengembangan model bahasa besar Malaysia bernama Ilmu. Kemudian, kesenjangan SDM teknologi mendorong raksasa lain ikut berinvestasi di Johor.
Data Bank Dunia mencatat lulusan bidang STEM di Indonesia hanya 18,47% pada 2020. Sebaliknya, Malaysia mencapai 37,19%. Meskipun begitu, rata-rata lulusan doktor semua bidang di Indonesia mencapai 8.000 orang per tahun selama 2020-2024. Malaysia jauh melampaui angka tersebut. Akibatnya, Google, Amazon, dan Microsoft ramai membangun pusat data di kawasan Johor.
Microsoft bahkan mengumumkan perluasan cloud region kedua di Johor Bahru pada November 2025. Langkah ini mempercepat transformasi AI di Asia Tenggara. Sementara itu, Indonesia kalah saing Malaysia NVIDIA karena faktor SDM ini. Nurul Ichwan menegaskan perlunya strategi besar mencetak talenta STEM.
Pemerintah Dorong Peningkatan SDM dan Infrastruktur
Pemerintah merespons dengan rencana pusat pelatihan hasil kerja sama industri dan perguruan tinggi.
“Yang perlu kita perhatikan ke depan adalah bagaimana pemerintah serta universitas negeri dan swasta tidak hanya fokus pada produksi sumber daya manusia yang tidak relevan dengan kebutuhan industri masa depan,” kata Nurul Ichwan lagi.
Selain itu, pusat pelatihan ini menyesuaikan dengan kawasan industri.
KEK Nongsa Digital Park di Batam sudah terisi lebih dari 80% dengan luas 166,45 hektare. Pemerintah memacu perluasan tambahan 21,59 hektare. Langkah ini mengakomodasi investasi teknologi berskala besar. Kemudian, Presiden Prabowo Subianto mengarahkan LPDP meningkatkan beasiswa STEM menjadi 67% pada 2025. Proporsi ini naik dari 58% di 2024.
Meskipun Indonesia kalah saing Malaysia NVIDIA saat ini, pemerintah optimis dengan langkah konkret. Nurul Ichwan menambahkan universitas harus relevan dengan industri masa depan. Sementara itu, Malaysia terus menarik investasi AI global. Indonesia fokus memperbaiki SDM agar kompetitif di kawasan.*/LIA