JAKARTA, KAREBA – Harga emas dunia jatuh ke level terendah dalam lebih dari satu minggu karena tertekan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar. Pada perdagangan 15/05, harga emas spot anjlok 2 persen menjadi US$4.557,61 per ons atau sekitar Rp74,31 juta di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Penguatan mata uang dolar AS membuat Harga Emas Dunia menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya. Selain itu, kenaikan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun yang mendekati level tertinggi dalam setahun terakhir membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik bagi investor global.

“Inflation risks continue to loom large in the market’s collective consciousness, as efforts to resolve the Middle East conflict have reached a stalemate following the U.S. and Iran’s rejection of each other’s peace initiatives,” kata Han Tan, Chief Market Analyst di Bybit.

Ketegangan di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz juga memicu kekhawatiran inflasi karena mengganggu stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah jenis Brent sempat menembus di atas US$103 per barel yang pada akhirnya mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.

“There was a broad sell-off in precious metals for several reasons. The dollar is quite robust today,” kata Edward Meir, analis di Marex.

Meskipun Harga Emas Dunia secara tradisional dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kombinasi faktor ekonomi makro saat ini memberikan tekanan teknis yang besar. Pelaku pasar kini sedang mencermati data indeks harga konsumen mendatang untuk memprediksi langkah kebijakan moneter Amerika Serikat selanjutnya.

“Gold lacks a clear direction as markets assess ongoing geopolitical uncertainty, the economic repercussions of the Middle East conflict, and the potential for the Trump-Xi meeting to facilitate a resolution,” kata Nikos Tzabouras, senior market analyst di Tradu.com.

Saat ini investor cenderung melakukan aksi jual pada kontrak berjangka untuk membatasi risiko kerugian lebih lanjut. Jika inflasi tetap berada di atas target, maka Harga Emas Dunia diprediksi akan terus menghadapi tekanan jual yang cukup signifikan dalam jangka pendek.