WASHINGTON D.C., KAREBA — Kelompok peretas Handala mengklaim telah melakukan peretasan email Direktur FBI Kash Patel dan membocorkan ratusan data pribadi ke publik pada Jumat (27/03). Aksi ini merupakan bentuk balas dendam setelah pihak berwenang AS menyita domain milik kelompok yang berafiliasi dengan Iran tersebut. Sebagai respons cepat, pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah senilai 10 juta dolar AS atau setara Rp 170 miliar bagi siapa saja yang bisa mengungkap identitas pelaku.
Aksi peretasan email Direktur FBI ini menargetkan akun Gmail pribadi milik Patel, bukan sistem komunikasi resmi pemerintah. Para peretas berhasil mengekstraksi riwayat komunikasi sejak tahun 2010 hingga 2019 yang mencakup dokumen sensitif seperti rekam jejak karier dan komunikasi keluarga. Data tersebut kemudian diunggah di situs web gelap milik Handala Hack Team sebagai bukti keberhasilan mereka menembus privasi pejabat tinggi keamanan Amerika.
Di dalam data yang bocor, terdapat lebih dari 300 sampel email yang berisi tanda terima perjalanan, pelaporan pajak, hingga foto-foto pribadi Patel saat merokok cerutu dan berpose dengan mobil antik. Dokumen resume yang ikut tersebar mengungkap peran Patel pada 2016 sebagai penghubung antara Departemen Kehakiman dan Komando Operasi Khusus Gabungan dalam misi antiterorisme. Penargetan peretasan email Direktur FBI ini dianggap sebagai upaya sistematis untuk meruntuhkan mitos keamanan biro investigasi tersebut.
“FBI menyadari adanya aktor jahat yang menargetkan informasi email pribadi Direktur Patel, dan kami telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memitigasi potensi risiko yang terkait dengan aktivitas ini. Informasi yang dipertanyakan tersebut bersifat historis dan sama sekali tidak melibatkan informasi pemerintah,” kata Ben Williamson, Juru Bicara Biro Investigasi Federal AS.
Program Rewards for Justice dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi merilis nilai sayembara tersebut guna memburu anggota Handala. Langkah ini diambil setelah kelompok tersebut teridentifikasi melakukan serangkaian serangan siber destruktif terhadap infrastruktur dan perusahaan medis di Amerika. Insiden peretasan email Direktur FBI ini menjadi eskalasi terbaru dalam perang siber antara kelompok peretas asing dengan lembaga penegak hukum federal.
“Kash Patel, kepala FBI saat ini, yang pernah melihat namanya terpampang dengan bangga di markas besar lembaga tersebut, kini akan menemukan namanya di antara daftar korban yang berhasil diretas,” tulis Pernyataan Resmi Kelompok Peretas Handala.
Sebelumnya, pada pertengahan Maret 2026, Departemen Kehakiman telah menyita empat domain utama yang digunakan oleh Handala untuk operasi psikologis. Namun, penyitaan tersebut justru memicu serangan balasan yang lebih agresif. Pemerintah kini fokus melacak jejak digital para peretas yang diduga kuat beroperasi di bawah perlindungan negara asing untuk mengganggu stabilitas keamanan nasional Amerika Serikat.