WASHINGTON, KAREBA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menyatakan bahwa Trump tolak Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru untuk menggantikan mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Keputusan ini disampaikan saat Operation Epic Fury memasuki hari ketujuh pada Kamis (05/03) dengan intensitas serangan yang semakin meningkat di wilayah Teheran.

Langkah politik Trump tolak Mojtaba Khamenei muncul setelah Majelis Ahli Iran menunjuk putra mendiang pemimpin tersebut sebagai penerus di bawah tekanan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Pemerintah Amerika Serikat menganggap pengangkatan ini sebagai upaya mempertahankan rezim yang dinilai sudah tidak lagi memiliki legitimasi di mata internasional.

Kampanye udara gabungan yang dilakukan AS dan Israel ini dilaporkan telah menghantam lebih dari 2.000 target strategis, termasuk instalasi nuklir dan gedung pemerintahan. Kekuatan udara yang dikerahkan dalam operasi ini diklaim mencapai dua kali lipat dari kekuatan serangan saat invasi Irak tahun 2003 untuk melumpuhkan pertahanan lawan secara total.

Berdasarkan data dari Departemen Pertahanan AS, kemampuan balasan rudal balistik Iran telah menurun hingga 86 persen sejak serangan dimulai pada akhir Februari lalu. Pelemahan ini terjadi seiring dengan tewasnya sejumlah pejabat senior pertahanan Iran dalam gelombang awal serangan udara di pusat kota Teheran.

“Kita tidak akan membiarkan rezim yang sudah goyah ini membangun kembali kekuatannya melalui sistem dinasti klerus,” tegas Donald Trump dalam pernyataan pers pada Kamis (05/03).

Meskipun Trump tolak Mojtaba Khamenei dan terus menggempur infrastruktur militer Iran, pihak Pentagon menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pengiriman pasukan darat ke wilayah tersebut. Fokus utama saat ini tetap pada pelemahan kemampuan militer dan mendorong pembentukan pemerintahan baru yang pro-damai di Iran.