DUBAI, KAREBA. Krisis kemanusiaan akibat perang Iran memicu fenomena ratusan hewan peliharaan ditinggalkan di Dubai oleh para ekspatriat yang terburu-buru melakukan evakuasi. Eskalasi konflik yang terjadi pada Maret 2026 ini memaksa pemilik hewan meninggalkan peliharaan mereka di jalanan, diikat di tiang listrik, hingga dibuang di gurun perbatasan UEA dan Oman.

Kondisi ini menciptakan lonjakan kasus abandon yang belum pernah terjadi sebelumnya pasca serangan ke wilayah Uni Emirat Arab. Penutupan ruang udara oleh negara-negara Teluk dan aturan lintas batas yang ketat menjadi alasan utama mengapa hewan peliharaan ditinggalkan di Dubai oleh pemiliknya yang ingin cepat menyelamatkan diri.

Sejumlah shelter hewan di Dubai dan Al-Ain melaporkan kondisi yang sangat kritis karena kapasitas penampungan yang sudah melampaui batas. Para relawan menemukan banyak anjing dan kucing yang ditinggalkan dalam kotak atau dibuang begitu saja tanpa akses air dan makanan di tengah cuaca panas.

“Shelters are currently overwhelmed and doing everything possible, kami berusaha tetap adaptif karena ini masa sulit,” kata Aditi Gouri, perwakilan dari The Barking Lot Dubai.

Banyak pihak menyayangkan sikap para ekspatriat yang mengabaikan aspek moral demi kecepatan evakuasi pribadi. Meski Dubai dikenal sebagai kawasan yang makmur, dukungan finansial untuk penyelamatan hewan justru masih sangat minim di tengah situasi darurat perang ini.

“Meninggalkan hewan di perbatasan atau jalan, bahkan tanpa dokter hewan, tidak ada pembenaran. Dubai negara kaya,” kata Louise Hastie, anggota organisasi War Paws.

Data dari media sosial menunjukkan ada lebih dari 200 unggahan di grup WhatsApp dan Facebook mengenai temuan anjing yang telantar tanpa pemilik. Pihak shelter Six Hounds di Al-Ain bahkan menerima hingga 27 pesan per hari terkait laporan hewan peliharaan ditinggalkan di Dubai dan sekitarnya.

“Kami semua kewalahan, kekurangan dana, dan staf. Kami terima 27 pesan soal hewan ditinggalkan hanya dalam satu hari,” kata Anso Stander, pengelola Six Hounds Al-Ain.

Hingga saat ini, para relawan terus berupaya mencarikan orang tua asuh baru atau memfasilitasi adopsi bagi hewan-hewan tersebut. Namun, biaya relokasi yang tinggi dan prosedur medis yang rumit membuat proses penyelamatan berjalan sangat lambat dibandingkan laju pembuangan hewan di jalanan.