BEIJING, KAREBA – Pendiri Binance, Changpeng Zhao, memperingatkan bahaya pengembangan robot serigala AI China yang disebutnya jauh lebih menakutkan daripada senjata nuklir. Peringatan ini muncul setelah rekaman resmi militer pada 28/03 menunjukkan robot bersenjata otonom tersebut mampu melakukan koordinasi serangan berkelompok di medan tempur kompleks.

Rekaman tersebut menampilkan robot serigala AI China yang mampu bergerak dengan kecepatan 15 kilometer per jam sambil membawa muatan tempur seberat 25 kilogram. Teknologi ini dikembangkan dalam tiga varian khusus yakni tipe Shadow untuk pengintaian, tipe Bloody sebagai unit penyerang, dan tipe Polar yang difungsikan untuk urusan logistik.

“Robot serigala AI China ini lebih menakutkan dari nuklir,” kata Changpeng Zhao, Pendiri Binance.

Zhao menyoroti kekhawatiran mendalam mengenai risiko keamanan siber di mana satu peretasan tunggal dapat mengambil alih kendali atas seluruh sistem senjata otonom tersebut. Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan menuju persenjataan robotik merupakan hal yang tidak terelakkan bagi setiap negara di masa depan.

“AI tak terelakkan mengarah ke ini, di setiap negara. Sayangnya, saya tidak melihat cara menghindarinya. Satu peretas saja bisa mengendalikan ini,” kata Changpeng Zhao, Pendiri Binance.

Sistem ini dikembangkan oleh China South Industries Group Corporation yang kini telah memasuki tahap produksi massal untuk keperluan militer. Pihak otoritas mengklaim bahwa penggunaan robot otonom bertujuan untuk menekan angka kematian prajurit dengan mengambil alih tugas berbahaya di lingkungan perkotaan.

“Sistem tak berawak seperti ini dirancang untuk mengurangi korban jiwa tempur dengan mengambil tugas berisiko tinggi di lingkungan perkotaan dan menyediakan intelijen medan perang secara real-time,” kata Zhang Junshe, Pakar Militer China.

Sementara itu, menanggapi kemajuan pesat robot serigala AI China, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan komitmennya untuk menjaga keunggulan teknologi negaranya. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat harus tetap memimpin dalam perlombaan kecerdasan buatan global guna menjaga dominasi strategis.

“Kami berkomitmen memastikan Amerika Serikat tetap nomor satu dalam kecerdasan buatan. Amerika sedang memimpin China dengan sangat jauh,” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Robot serigala AI China ini dibekali dengan sensor canggih mulai dari radar, pencitraan termal, hingga sensor akustik untuk mengenali target secara mandiri. Persenjataannya meliputi misil mikro dan peluncur granat otomatis yang terintegrasi dengan data drone udara secara real-time.