, KAREBA — Layanan satelit Starlink menjadi penyelamat konektivitas bagi warga Iran di tengah pemadaman internet nasional sejak 8 Januari 2026. Pemerintah Iran memutus akses internet dan seluler untuk membatasi informasi protes anti-pemerintah. Ribuan terminal Starlink diselundupkan masuk meski aparat melakukan jamming sinyal.​

Protes melawan rezim Ayatollah Ali Khamenei memasuki pekan ketiga. Demonstran menggunakan Starlink untuk mengirim video dan gambar kekerasan aparat ke dunia luar. Pemadaman internet menjangkau 92 juta warga Iran, menjadikannya salah satu yang terpanjang dalam sejarah.​

Pemerintah Iran mengaktifkan “kill switch” militer-grade untuk mengganggu Starlink. Teknologi jamming ini menyebabkan kehilangan paket data hingga 80 persen di wilayah seperti Teheran. Pakar menduga peralatan tersebut berasal dari Rusia atau China.​

“Ini jenis interferensi yang belum pernah saya temui dalam 20 tahun riset, disebabkan perangkat militer bernama jammer,” kata Amir Rashidi, direktur hak digital Miaan Group, pada IranWire.

Sementara itu, SpaceX merespons dengan pembaruan firmware pada 10 Januari 2026. Pembaruan tersebut menurunkan kehilangan paket menjadi sekitar 10 persen, meskipun koneksi masih tidak stabil. SpaceX juga menghapus biaya langganan untuk pengguna Iran mulai 13 Januari.​

Ribuan terminal Starlink diselundupkan melalui Uni Emirat Arab, Kurdistan Irak, Armenia, dan Afghanistan. Aktivis memperkirakan 50.000 unit beredar di pasar gelap dengan harga US$700-800. Organisasi Holistic Resilience membantu distribusi terminal tersebut.​

Namun, kepemilikan Starlink melanggar hukum Iran sejak 2025. Hukuman mencakup penjara hingga 10 tahun atau hukuman mati jika dituduh mata-mata. Aparat melakukan penggerebekan rumah dan menggunakan drone untuk mendeteksi parabola di atap.

Meskipun begitu, Starlink memungkinkan dokumentasi pembantaian. Human Rights Activists News Agency melaporkan lebih dari 2.500 korban tewas, sementara Iran International memperkirakan 12.000 hingga 20.000 jiwa melayang. Video dari rumah sakit dan kamar mayat menyebar berkat layanan satelit ini.​

“Setiap kali pemerintah memutus internet, jumlah korban lebih banyak karena orang tak bisa melapor,” kata Farzaneh Badiei, peneliti kebijakan internet.

Kemudian, Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat pada 15 Januari 2026. Amerika Serikat dan sekutunya mengutuk kekerasan aparat. Protes berlanjut di Teheran, Isfahan, dan kota-kota lain meski risiko tinggi.​

Pemadaman internet melebihi 180 jam hingga 16 Januari 2026. NetBlocks mengonfirmasi pemutusan total sejak 20.30 waktu setempat pada 8 Januari. Demonstran tetap bertahan dengan Starlink sebagai harapan utama.​

Aparat juga melakukan spoofing GPS untuk membingungkan terminal Starlink. Teknik ini memperlambat kecepatan internet hingga sulit melakukan panggilan video. Meskipun demikian, pesan teks masih bisa dikirim.

SpaceX bekerja sama dengan organisasi seperti Holistic Resilience untuk memantau gangguan. Jutaan warga Iran bergantung pada konektivitas alternatif ini di tengah krisis.​*/LIA