JAKARTA, KAREBA — Aksi panic buying BBM meluas di sejumlah kota besar Indonesia menyusul eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz. Antrean panjang kendaraan dilaporkan terjadi di Medan, Aceh, hingga Jawa Timur sejak 05/03/2026 akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global secara masif.
“Cadangan kita masih aman, cukup untuk 20 hari,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Bahlil menegaskan bahwa kemampuan penyimpanan stok energi nasional secara normal memang selalu dijaga pada level 21 hingga 25 hari. Ia meminta masyarakat tidak termakan isu kelangkaan karena proses pengisian stok terus dilakukan melalui produksi domestik maupun pengadaan impor secara berkala.
“Otomatis BBM akan naik, sama seperti saat perang Ukraina, kan naik. Nanti kita monitor dulu,” kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat drastis setelah penutupan Selat Hormuz yang menghentikan lalu lintas kapal tanker pengangkut minyak dunia. Hal ini memicu lonjakan harga minyak mentah jenis Brent hingga menembus angka 85,41 dolar AS per barel pada pekan pertama Maret ini.
Pihak Pertamina Patra Niaga memastikan distribusi ke seluruh SPBU tetap berjalan normal untuk meredam kepanikan warga di berbagai daerah. Perusahaan plat merah ini juga memperketat pengawasan di lapangan guna mencegah aksi penimbunan menggunakan jeriken oleh oknum tidak bertanggung jawab.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak melakukan panic buying, tidak melakukan penimbunan yang nantinya justru bisa menyebabkan kelangkaan,” kata Dwi Anggia, Juru Bicara Kementerian ESDM.
Analis ekonomi memperkirakan setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS akan menambah beban fiskal APBN hingga Rp10,3 triliun. Pemerintah kini tengah menyiapkan simulasi kebijakan jika harga minyak mentah terus merangkak naik akibat terganggunya jalur perdagangan internasional di kawasan Teluk.