JAKARTA, KAREBA – Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro dilaporkan masih berada di kawasan Teluk Arab setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Meski beredar video hoaks yang mengklaim kapal tersebut telah lolos, pemerintah memastikan kondisi kru selamat dan proses negosiasi terus berjalan intensif di tengah ketegangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Kejadian kapal tanker Pertamina terjebak ini menjadi perhatian serius karena berdampak pada jalur distribusi minyak internasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan upaya diplomasi untuk membebaskan kedua kapal tersebut. Bahlil menyebut bahwa koordinasi dengan KBRI Teheran terus dilakukan agar kapal bisa segera keluar dari zona konflik dengan aman. Situasi ini dipicu oleh serangan udara ke fasilitas nuklir Iran pada 28/02 yang memicu penutupan akses maritim di wilayah strategis tersebut.
“Ada dua kapal, dua kargo. Itu masih dalam negosiasi. Insyaallah sebentar lagi selesai,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita menegaskan bahwa kabar mengenai keberhasilan kapal melintasi Selat Hormuz yang viral di media sosial adalah informasi palsu. Hasil verifikasi menunjukkan video tersebut merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan atau AI untuk menyesatkan publik. Saat ini, Pertamina Pride yang merupakan kapal jenis VLCC masih menunggu perkembangan situasi bersama puluhan kapal tanker lainnya di Teluk Persia.
“Dua kapal Pertamina International Shipping yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab, kondisi kapal dan kru dalam keadaan aman dan selamat,” kata Vega Pita, Pjs Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS).
Meskipun kapal tanker Pertamina terjebak, PT Pertamina (Persero) menjamin cadangan BBM nasional dalam kondisi aman pada level 22 hingga 23 hari. Pemerintah menerapkan skema pengadaan alternatif dari wilayah Asia Tenggara guna mengantisipasi gangguan distribusi dari Timur Tengah. Hal ini dilakukan agar kebutuhan energi domestik tetap terpenuhi selama masa krisis berlangsung.
Bahlil juga menekankan bahwa kasus kapal tanker Pertamina terjebak tidak akan memicu kenaikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar. Masyarakat diminta tidak panik karena stok nasional masih di atas standar minimum regulasi pemerintah sebesar 21 hari. Penyesuaian distribusi terus dipantau selama 24 jam untuk memastikan pasokan hingga Idul Fitri 2026 tidak terganggu oleh krisis di Selat Hormuz.
“Untuk harga BBM bersubsidi, seperti Pertalite, berapapun kenaikan harga minyak dunia, harganya akan tetap sama,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).