JAKARTA, KAREBA. Nilai tukar Rupiah tembus Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan intraday Senin (16/03/2026) dipicu memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Mata uang Garuda tercatat ditutup pada level Rp16.997 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya di angka Rp16.958.

Pelemahan ini dipengaruhi oleh ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu kepanikan investor global. Situasi tersebut mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman sehingga indeks dolar AS tetap perkasa. Kondisi ini menyebabkan fenomena Rupiah tembus Rp17.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah perdagangan pasar valuta asing domestik.

Lonjakan harga minyak mentah yang sempat menyentuh angka 115 dolar AS per barel turut memperberat beban fiskal nasional melalui inflasi impor. Sebagai negara importir energi, Indonesia menghadapi risiko tekanan eksternal yang cukup tinggi akibat pelemahan nilai tukar ini. Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas moneter meski suku bunga acuan tetap ditahan pada level 4,75 persen.

“Kalau ekonomi lagi lari kencang, makin kencang, harusnya fundamentalnya baik. Kalau normal, rupiah harusnya menguat,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan wewenang penuh dari bank sentral sesuai mandat regulasi moneter yang berlaku. Hingga Selasa (17/03/2026), posisi mata uang dalam negeri masih tertahan di level Rp16.997 per dolar AS menurut data Bloomberg pukul 15.00 WIB. Kondisi Rupiah tembus Rp17.000 dinilai telah melampaui batas psikologis pasar keuangan.

“Level Rp17.000 bukan lagi sekadar angka psikologis, tetapi mencerminkan bahwa kepercayaan pasar sedang diuji,” kata Prof. Syafruddin Karimi, Ekonom Universitas Andalas.

Ekonom tersebut menambahkan bahwa kenaikan harga komoditas energi akan berdampak langsung pada kebutuhan valas perusahaan di dalam negeri. Seluruh mata uang di kawasan Asia juga terpantau bergerak fluktuatif merespons sentimen global yang belum stabil. Pengamat memprediksi potensi fluktuasi masih akan berlanjut hingga akhir Maret 2026 mendatang.