TEL AVIV, KAREBA — Pemerintah Israel mendesak Amerika Serikat untuk merombak total draf Gencatan Senjata Israel Iran yang berisi 15 poin guna memperketat pengawasan program rudal balistik Teheran pada akhir Maret 2026. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu khawatir kesepakatan prematur yang didorong Presiden Donald Trump akan membiarkan infrastruktur militer Iran tetap utuh sebelum tujuan utama perang tercapai.
Israel menginginkan klausul yang lebih tegas terkait transfer uranium dan penghentian total pengembangan rudal jarak jauh sebelum keringanan sanksi diberikan. Ketegangan diplomatik ini memuncak setelah militer Israel atau IDF melaporkan adanya krisis personel akut yang mengancam stabilitas operasional di berbagai front pertempuran.
Proposal damai tersebut awalnya mewajibkan Iran untuk menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya kepada IAEA sebagai syarat pencabutan sanksi ekonomi secara bertahap. Namun, pihak Tel Aviv menilai pengawasan internasional saja tidak cukup untuk menjamin keamanan wilayah mereka dari ancaman nuklir di masa depan.
“Saya angkat 10 bendera merah sebelum IDF kolaps ke dalam dirinya sendiri,” kata Letnan Jenderal Eyal Zamir, Kepala Staf Militer Israel.
Peringatan keras tersebut muncul dalam rapat kabinet keamanan setelah laporan menunjukkan IDF kekurangan sekitar 15.000 personel, termasuk 8.000 prajurit tempur. Tekanan ini semakin berat menyusul kebijakan ekspansi pemukiman di Tepi Barat yang menuntut pengerahan pasukan lebih banyak di tengah perang yang sedang berlangsung.
“Tugas mereka itu untuk menasihati, tetapi kebijakan akan dibuat oleh kita,” kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Di sisi lain, Teheran secara resmi menolak proposal 15 poin dari Washington dan mengajukan lima poin kontra yang menuntut reparasi perang serta jaminan kedaulatan atas Selat Hormuz. Meski menolak secara publik, pejabat senior Iran dilaporkan tetap melakukan tinjauan internal terhadap kemungkinan Gencatan Senjata Israel Iran untuk meredakan kehancuran ekonomi mereka.
Menanggapi situasi yang buntu, militer Israel meluncurkan serangan udara masif selama 48 jam yang menargetkan jantung fasilitas produksi rudal di Teheran pada 28/03. Operasi ini dimaksudkan untuk menghancurkan sebanyak mungkin aset strategis lawan sebelum tekanan internasional memaksa kedua pihak menghentikan kontak senjata.