PALU, KAREBA – Harga kakao anjlok lebih dari 7 persen pada Jumat lalu ke level terendah dua tahun di pasar berjangka ICE New York dan London.
Lonjakan surplus produksi global serta permintaan lemah dari pengolah cokelat memicu aksi jual besar-besaran. Kontrak Maret ICE New York turun sekitar 6 persen, sementara London kakao merosot lebih dari 6,4 persen.
Produsen kakao utama di Afrika Barat seperti Pantai Gading dan Ghana meningkatkan pasokan musim 2025/26 berkat cuaca lebih baik. International Cocoa Organization (ICCO) perkirakan surplus global mencapai 49 ribu ton pada musim 2024/25, sementara Rabobank tebalkan proyeksi surplus 2025/26 menjadi 250 ribu ton metrik.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan Indonesia catat harga referensi (HR) biji kakao Januari 2026 sebesar 5.662,38 dolar AS per ton metrik, turun 5,27 persen dari bulan sebelumnya.
Permintaan global melemah signifikan. Barry Callebaut, produsen cokelat terbesar dunia, laporkan volume penjualan divisi kakao turun 22 persen pada kuartal berakhir 30 November 2025. Volume keseluruhan grup merosot 9,9 persen menjadi 509.401 ton.
Peter Vanneste, CFO Barry Callebaut, sebut, “Harga biji kakao turun lebih lanjut sejak awal tahun dan panen berkembang sesuai harapan,” pada pernyataan resmi.
Data penggilingan kakao Eropa perkuat tren penurunan permintaan. European Cocoa Association (ECA) laporkan grindings kuartal IV 2025 turun 8,3 persen menjadi 304.470 ton metrik, angka terendah sejak 12 tahun lalu. Jerman alami penurunan 9,9 persen menjadi 81.096 ton pada periode sama. Selama tahun penuh 2025, grindings Eropa capai 1,327 juta ton, turun 5,9 persen dari 2024 dan terlemah sejak 2015.
Kondisi ini ubah narasi pasar dari defisit ekstrem tahun lalu. ICCO revisi defisit 2023/24 menjadi minus 494 ribu ton, terbesar dalam 60 tahun, tapi produksi global musim 2024/25 naik 7,4 persen menjadi 4,69 juta ton metrik.
Namun, harga kakao anjlok hampir 50 persen sepanjang 2025, penurunan tahunan terdalam sejarah, dan lanjut turun 61 persen dari puncak Desember 2024.
Di Pantai Gading, penumpukan biji kakao di pelabuhan akibat kekurangan lisensi ekspor picu regulator beli 123 ribu ton untuk stabilkan harga. Meskipun begitu, analis Rabobank perkirakan tren harga kakao anjlok berlanjut tanpa gangguan cuaca mendadak.
Pelaksana tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, jelaskan lonjakan suplai Afrika Barat dorong koreksi harga global pada Kamis (1/1/2026).
Penurunan harga ini beri harapan stabilisasi bagi konsumen cokelat. Produsen mulai prioritaskan segmen margin tinggi, sementara harga patokan ekspor Indonesia ikut terkoreksi menjadi 5.296 dolar AS per ton. Kemendag pantau perkembangan ini untuk lindungi petani lokal.*/LIA