JAKARTA, KAREBA – Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 50 persen sejak akhir Februari 2026. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran secara efektif menghentikan 20 persen lalu lintas energi global, memaksa pemerintah Indonesia menerapkan pembatasan pembelian BBM bersubsidi sebesar 50 liter per hari bagi setiap kendaraan.
Serangan udara gabungan dalam operasi Epic Fury dan Roaring Lion yang dimulai pada 28/02/2026 telah menghancurkan ratusan target militer di Tehran dan Isfahan. Kondisi ini menyebabkan harga minyak dunia jenis Brent menyentuh angka USD85,41 per barel pada awal Maret 2026, naik signifikan dari posisi awal sebesar USD72,48 per barel.
Gangguan pasokan ini berdampak luas pada ekonomi internasional, termasuk di Asia dan Afrika. Di Jakarta, pemerintah menginstruksikan pegawai negeri untuk bekerja dari rumah atau WFH selama satu hari dalam seminggu guna menekan konsumsi bahan bakar nasional yang stoknya kini hanya bertahan untuk 25 hari ke depan.
“Sekalipun dalam kondisi yang memang hampir semua dunia kena, tetapi kita bersyukur kepada Allah, hari ini BBM di negara kita tercinta, baik bensin, solar, maupun LPG, terpenuhi dengan baik,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI saat melakukan sidak di Jawa Tengah pada 30/03/2026.
Sementara itu, negara-negara lain mengambil langkah drastis dengan memangkas pajak energi untuk meredam inflasi. Pemerintah India menghapus total pajak diesel sebesar 10 rupee per liter, sementara Afrika Selatan mengurangi pungutan bahan bakar sebesar 3 rand per liter guna melindungi daya beli masyarakat dari guncangan harga minyak dunia yang terus bergejolak.
“Pihak berwenang terpaksa memilih antara menaikkan harga bahan bakar secara drastis di tengah krisis atau menanggung kerugian pada keuangan sendiri untuk melindungi pembeli,” kata Hardeep Singh Puri, Menteri Perminyakan India melalui unggahan di media sosial pada 27/03/2026.
Di Mesir, harga solar melonjak hingga 17,1 persen sebagai respons atas tekanan energi luar biasa yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Untuk menjaga kestabilan dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan bahwa harga BBM subsidi di Indonesia tidak akan mengalami kenaikan hingga masa Lebaran 2026 mendatang.
“Kita tidak menaikkan harga BBM subsidi. Bahaya ini, tidak benar,” kata Laode, Dirjen Migas ESDM RI pada 29/03/2026.
Sejumlah lembaga keuangan seperti Barclays dan UBS memprediksi harga minyak dunia bisa menembus angka USD120 per barel jika blokade Selat Hormuz terus berlanjut hingga pertengahan tahun. Saat ini, International Energy Agency (IEA) telah melepas 400 juta barel cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasar global yang sedang dilanda kepanikan.