TEHERAN, KAREBA. Republik Islam Iran secara resmi menolak Proposal Gencatan Senjata AS yang berisi 15 poin kesepakatan untuk mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah eskalasi serangan Teheran terhadap Israel dan negara-negara Arab di wilayah Teluk sejak perang meletus sebulan lalu hampir tepat pada akhir Februari.

Penolakan terhadap Proposal Gencatan Senjata AS tersebut disampaikan otoritas Iran pada 25/03 sebagai bentuk perlawanan terhadap syarat yang diajukan Washington. Iran memilih untuk terus melanjutkan operasi militer mereka meskipun pemerintahan Donald Trump berupaya meredam situasi yang dimulai bersama Israel sejak bulan lalu.

Informasi yang dihimpun terkait isi Proposal Gencatan Senjata AS mencakup tuntutan agar Iran membongkar seluruh fasilitas nuklir utama mereka secepat mungkin. Washington juga meminta pembatasan ketat terhadap arsenal rudal milik Iran agar hanya digunakan untuk kepentingan pertahanan diri sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi.

Namun pihak Iran justru mengabaikan syarat dalam Proposal Gencatan Senjata AS dan mengajukan kondisi tandingan dengan menuntut jaminan keamanan dari pihak AS dan Israel. Teheran juga meminta reparasi atas kerusakan perang serta pengakuan otoritas penuh atas Selat Hormuz sebagai prasyarat mutlak tercapainya perdamaian.

“Pembicaraan perdamaian dengan Iran masih berlangsung,” kata Gedung Putih dalam pernyataan resmi yang dikutip melalui Bloomberg pada hari Rabu waktu setempat.

“Saya berharap mencapai kesepakatan pada akhir pekan ini,” kata Donald Trump, Presiden AS saat memberikan keterangan pers mengenai target penyelesaian konflik bersenjata tersebut.

Upaya diplomasi ini diperkirakan akan berlanjut dengan rencana kunjungan Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan pada akhir pekan nanti untuk membicarakan posisi Iran. Washington tetap menaruh harapan besar bahwa melalui mediasi di Pakistan tersebut kesepakatan perdamaian dapat segera tercapai sebelum situasi semakin meluas.