KAIRO, KAREBA – Krisis minyak global kian memburuk menyusul penutupan Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus angka 112 USD per barel pada 30/03. Situasi ini memaksa Badan Energi Internasional atau IEA untuk mendesak negara-negara terdampak segera melakukan rasionalisasi energi melalui rencana darurat 10 poin guna mengendalikan permintaan pasar yang tidak stabil.
Penutupan jalur distribusi utama yang biasanya mengalirkan 20 juta barel minyak per hari tersebut merupakan dampak dari pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari lalu. Sebagai langkah darurat, IEA telah melepas 411,9 juta barel cadangan minyak ke pasar global, yang tercatat sebagai aksi pelepasan cadangan energi terbesar sepanjang sejarah lembaga tersebut.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyatakan bahwa pelepasan cadangan minyak saja tidak akan cukup untuk meredam krisis minyak global jika konflik terus berlanjut tanpa kepastian. Rencana darurat yang diusulkan mencakup kebijakan kerja dari rumah (WFH), pembatasan kecepatan kendaraan di jalan raya, hingga penerapan rotasi nomor plat kendaraan di area perkotaan untuk mengurangi konsumsi BBM.
“Langkah-langkah ini adalah tindakan praktis dan segera yang dapat melindungi konsumen dan ekonomi dari guncangan yang lebih dalam,” kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.
Di kawasan Asia Tenggara, sejumlah negara mulai memberlakukan aturan ketat untuk menghadapi dampak krisis minyak global yang kian parah terhadap ekonomi domestik. Thailand mewajibkan pegawai negeri bekerja dari rumah dan membatasi suhu AC kantor maksimal 27 derajat Celsius, sementara Filipina telah menetapkan status darurat energi nasional dengan sistem empat hari kerja seminggu.
Pemerintah Pakistan bahkan menerapkan sistem lockdown pintar dengan menutup pusat perbelanjaan lebih awal dan memotong subsidi bahan bakar hingga 50 persen. Langkah serupa diambil oleh Mesir yang menutup toko dan mall pada pukul 21.00 setelah tagihan impor energi bulanan mereka melonjak drastis menjadi 2,5 miliar USD pada Maret 2026.
“Tagihan energi bulanan kami telah berlipat ganda dari 1,2 miliar dolar pada Januari menjadi 2,5 miliar dolar pada Maret,” kata Mostafa Madbouly, Perdana Menteri Mesir.
Sejumlah analis dari IEA mengingatkan bahwa tanpa solusi diplomatik di Selat Hormuz, stabilitas pasokan energi dunia akan terus terancam dalam jangka panjang. Neil Quilliam dari Chatham House menilai bahwa pelepasan cadangan hanya solusi sementara yang tidak akan mengubah esensi krisis minyak global jika tidak ada alternatif pasokan yang masuk ke pasar secara signifikan.
“Semakin lama krisis ini berlanjut, semakin parah dampaknya,” kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.