JAKARTA, KAREBA. Implementasi Program Makan Bergizi Gratis menuai kritik tajam dari parlemen terkait efektivitas penggunaan infrastruktur dapur untuk mengolah makanan segar bagi siswa di lapangan. Kritik ini muncul bersamaan dengan kebijakan pemerintah yang memangkas durasi operasional program menjadi lima hari per minggu demi efisiensi anggaran negara.

Anggota Komisi XI Pulung Peranginangin mempertanyakan urgensi pembangunan fasilitas dapur jika kenyataan di lapangan siswa justru menerima produk makanan kemasan. Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis seharusnya memberikan asupan makanan segar yang diproses secara mandiri di setiap satuan pendidikan agar manfaat gizinya maksimal.

“Buat apa ada dapur jika bahan makanan yang diberikan ke masyarakat berupa biskuit dan susu kotak?” kata Pulung Peranginangin, Anggota DPR Komisi XI pada 27/03.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa penyesuaian operasional Program Makan Bergizi Gratis ini berpotensi memberikan penghematan hingga Rp40 triliun. Langkah penghematan tersebut merupakan inisiatif internal Badan Gizi Nasional untuk menyelaraskan penyaluran dengan jumlah hari efektif sekolah di Indonesia yang mayoritas hanya lima hari.

“Jadi ada efisiensi juga dari MBG. Jadi ada pengurangan cukup banyak tuh, yang dia bilang saja Rp40 triliun hitungan pertama kasar, tetapi bisa lebih. Bukan saya motong ya, memang dia melakukan sendiri,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan pada 25/03.

Instansi Kementerian Keuangan mencatat bahwa total anggaran untuk program ini pada tahun 2026 mencapai Rp335 triliun dengan sasaran 82,9 juta penerima manfaat. Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menjelaskan bahwa perubahan pola penyaluran dari enam hari menjadi lima hari bertujuan untuk memastikan makanan yang sampai ke tangan siswa adalah makanan segar.

“Jika sekolah lima hari, maka mereka akan mendapatkan MBG lima hari, sementara jika ada sekolah yang enam hari, maka MBG diberikan enam hari. Berdasarkan data yang ada, mayoritas lama sekolah lima hari,” kata Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional pada 27/03.

Dadan menambahkan bahwa pada tahun sebelumnya Program Makan Bergizi Gratis tetap diberikan selama enam hari dengan skema makanan bawa pulang pada hari Jumat. Namun, mulai tahun 2026, basis penyaluran diubah sepenuhnya menjadi makanan segar yang hanya diberikan saat siswa hadir secara fisik di sekolah untuk mengoptimalkan biaya operasional.