, KAREBA – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, secara resmi menetapkan status Tanggap Darurat Sulteng menyusul gempa bumi berkekuatan 6,7 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa, 16 Juni 2026. Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor: 300 2.1/195/BPBD-C-ST/2026 dan berlaku selama tujuh hari, terhitung mulai 17 Juni hingga 23 Juni 2026, untuk merespons cepat kerusakan dan korban di empat kabupaten/kota terdampak.

Gempa bumi yang terjadi pada pukul 10.27 WITA tersebut berpusat pada kedalaman 10 kilometer, berjarak 42 kilometer tenggara Palu, dengan koordinat 1,03 LS; 120,24 BT. Dampak dari guncangan ini sangat meluas, menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan, hilangnya nyawa, serta mengganggu aktivitas sosial masyarakat di Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten , dan Kota Palu.

“Bahwa sehubungan telah terjadi gempa bumi pada tanggal 16 Juni Tahun 2026 pukul 10.27 wita dengan kekuatan magnitude 6,7 Sr episenter gempa terletak pada koordinat 1,03 LS; 120,24 BT dengan kedalaman 10 km pada jarak 42 km tenggara palu yang berdampak pada beberapa wilayah Kabupaten di Sulawesi Tengah,” demikian bunyi kutipan dari Keputusan Gubernur tersebut.

Masa Tanggap Darurat Gempa Sulteng ini memungkinkan pemerintah daerah untuk mengalokasikan sumber daya secara cepat dalam penanganan bencana. Segala pembiayaan yang timbul akibat keputusan ini akan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Tengah tahun anggaran 2026, serta sumber pendanaan lain yang sah dan tidak mengikat sesuai peraturan perundang-undangan.

“Bahwa dampak dari gempa bumi tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur, hilangnya nyawa, serta mengganggu kehidupan masyarakat di wilayah terdampak,” lanjut kutipan dari dokumen resmi itu. “Penetapan status tanggap darurat bencana… ditetapkan selama 7 hari terhitung sejak tanggal 17 juni 2026 sampai dengan 23 juni 2026.”

Tak hanya mengeluarkan surat keputusan, Gubernur Anwar Hafid juga langsung bergerak cepat meninjau lokasi terdampak gempa bumi di lima desa Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, pada 17 Juni. Kunjungan ini menyalurkan bantuan darurat berupa tenda, selimut, dan pasokan air bersih bagi sekitar 550 Kepala Keluarga yang tempat tinggalnya rusak akibat gempa.

Warga terdampak di Sigi sangat membutuhkan air bersih, terpal atau tenda darurat, obat-obatan, selimut, serta kebutuhan khusus bagi anak-anak. Prioritas utama adalah penyediaan air bersih karena banyak sumber air warga yang tertutup material longsor pascagempa. Penanganan cepat pada masa Tanggap Darurat Gempa Sulteng ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa pusat gempa berada di darat, dengan guncangan yang terasa sangat kuat karena lokasinya tepat 42 kilometer arah tenggara Kota Palu dan karakteristik sesar Palu-Koro yang aktif. Gempa utama ini diikuti oleh ratusan gempa susulan hingga berita ini diturunkan, menambah kekhawatiran di tengah upaya penanganan Tanggap Darurat Gempa Sulteng.

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan bantuan dan penanganan di lapangan berjalan optimal selama masa Tanggap Darurat Gempa Sulteng.