TEHERAN, KAREBA. Perang AS-Israel Lawan Iran kini memasuki minggu keempat sejak pertama kali meletus pada akhir Februari lalu dengan jumlah korban jiwa yang terus meningkat tajam. Laporan terbaru mencatat lebih dari 3.000 orang dinyatakan tewas akibat rangkaian serangan udara masif yang menyasar fasilitas nuklir, pangkalan militer, hingga kawasan permukiman penduduk sipil.
Data dari lembaga independen menunjukkan eskalasi konflik yang sangat mematikan bagi kedua belah pihak, terutama di wilayah kedaulatan Iran. Hingga tanggal 21/03, tercatat ribuan nyawa melayang termasuk ratusan perempuan dan anak-anak yang terjebak dalam zona pertempuran di berbagai kota besar.
“Total korban tewas akibat serangan AS-Israel sejak 28 Februari mendekati 3.200 orang, termasuk warga sipil dan personel militer,” tulis laporan resmi dari pihak HRANA.
Pemerintah Iran melalui kementerian terkait juga terus memperbarui data warga yang menjadi korban dalam Perang AS-Israel Lawan Iran ini. Serangan tersebut dilaporkan telah menghancurkan setidaknya 131 kawasan permukiman yang mengakibatkan krisis kemanusiaan hebat di tengah blokade ekonomi dan militer yang kian mencekik.
“Jumlah korban tewas meningkat menjadi 926 orang dengan 6.186 luka,” kata Hossein Kermanpour, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran.
Di pihak lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan optimistis mengenai durasi kampanye militer tersebut. Trump menegaskan bahwa tujuan utama serangan adalah untuk melumpuhkan kapabilitas nuklir Teheran sebelum negara tersebut benar-benar mampu memproduksi senjata pemusnah massal.
“Perang ini akan selesai dalam 4 minggu atau kurang,” ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Meskipun ada klaim bahwa operasi militer akan segera berakhir, situasi di lapangan menunjukkan ketegangan yang belum mereda. Perang AS-Israel Lawan Iran justru berdampak pada terganggunya jalur perdagangan internasional setelah Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz secara total.
Wakil Presiden Amerika Serikat juga menekankan bahwa langkah militer ini diambil sebagai bentuk pertahanan preventif. Menurutnya, koalisi tidak akan berhenti sebelum memastikan ancaman keamanan dari program rudal dan nuklir Iran benar-benar dapat dihilangkan secara permanen.
“Tujuan utama adalah memastikan Iran tidak pernah punya senjata nuklir,” kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Hingga memasuki hari ke-24, gelombang serangan masih terus berlangsung di beberapa titik strategis. Dunia internasional kini tengah menanti apakah Perang AS-Israel Lawan Iran ini akan benar-benar selesai dalam waktu dekat sebagaimana prediksi Gedung Putih atau justru akan meluas menjadi konflik regional yang lebih besar.