[YERUSALEM], KAREBA. Polisi Israel blokir pemimpin Katolik tertinggi di Tanah Suci saat hendak memasuki Gereja Makam Kudus di Yerusalem untuk merayakan Misa Minggu Palma pada 29/03/2026. Kejadian ini melibatkan Kardinal Pierbattista Pizzaballa dan Romo Francesco Ielpo OFM yang dipaksa berbalik arah oleh aparat keamanan setempat.

Insiden penolakan masuk ini merupakan peristiwa pertama dalam berabad-abad di mana otoritas keamanan menghalangi pemimpin gereja merayakan hari suci di situs tersebut. Sebelumnya, prosesi tradisional dari Bukit Zaitun juga telah dibatalkan akibat situasi perang yang melanda kawasan sejak akhir Februari lalu.

“Pada pagi ini, Polisi Israel menghalangi kehadiran Yang Mulia Kardinal Pierbattista Pizzaballa, pemimpin Gereja Katolik Tanah Suci, serta Custos Tanah Suci, Pastor Francesco Ielpo, yang merupakan penjaga resmi Gereja Makam Kudus, saat mereka hendak merayakan Misa Minggu Palma,” tulis pernyataan bersama Patriarkat Latin Yerusalem dan Kustodia Tanah Suci.

Pihak gereja menilai tindakan polisi tersebut sebagai preseden yang sangat berbahaya karena tidak menghormati tradisi kuno yang telah diatur dalam Status Quo 1852. Selama ini, hak akses ibadah di situs tersuci umat Kristen tersebut tetap dihormati bahkan dalam situasi krisis global atau pandemi sekalipun.

“Ini merupakan preseden serius dan berbahaya yang tidak menghormati sensitivitas miliaran umat beriman di seluruh dunia yang menatap Yerusalem selama Pekan Suci ini,” lanjut pernyataan resmi tersebut.

Tindakan otoritas Israel ini memicu reaksi keras dari Pemerintah Italia yang segera mengambil langkah diplomatik resmi. Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani telah memberikan instruksi tegas untuk memanggil perwakilan diplomatik Israel guna meminta penjelasan atas insiden memalukan ini.

“Saya telah memerintahkan agar Duta Besar Israel dipanggil ke Kementerian Luar Negeri besok untuk memberikan penjelasan atas keputusan mencegah Kardinal Pizzaballa merayakan Minggu Palma,” kata Antonio Tajani, Menteri Luar Negeri Italia.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni turut menyampaikan solidaritasnya kepada komunitas Katolik di Yerusalem. Meloni menegaskan bahwa pembatasan akses ibadah terhadap pemimpin agama merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap prinsip kebebasan beragama yang diakui secara internasional.

“Penolakan masuk ini merupakan pelanggaran tidak hanya terhadap umat beriman, tetapi terhadap setiap komunitas yang mengakui kebebasan beragama,” kata Giorgia Meloni, Perdana Menteri Italia.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkilah bahwa penutupan akses tersebut murni demi alasan keamanan. Netanyahu menyebut adanya ancaman serangan rudal dari Iran yang menargetkan situs-situs suci di Yerusalem sejak operasi militer pecah pada 28/02/2026.

“Tidak ada niat jahat dalam keputusan ini. Situs suci milik komunitas Kristen, Yahudi, dan Muslim telah menjadi target serangan Iran baru-baru ini. Dalam satu insiden, puing rudal jatuh hanya beberapa meter dari Gereja Makam Kudus,” kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Hingga saat ini, Gereja Makam Kudus dan Masjid Al-Aqsa dilaporkan masih dalam pengawasan ketat aparat polisi Israel. Pembatasan akses ini berdampak pada jutaan peziarah internasional yang biasanya memadati Kota Tua Yerusalem selama rangkaian Pekan Suci.