JAKARTA, KAREBA — Pemerintah Indonesia mengecam keras serangan keji yang menewaskan prajurit TNI di Lebanon saat menjalankan misi perdamaian PBB di wilayah konflik. Menteri Luar Negeri Sugiono telah berkomunikasi langsung dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres guna merespons insiden fatal yang terjadi di wilayah selatan Lebanon tersebut.

Tiga orang prajurit TNI di Lebanon dikonfirmasi gugur setelah terjadi ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL serta markas penjaga perdamaian pada awal pekan ini. Salah satu korban yang teridentifikasi secara resmi adalah Prajurit Satu Farizal Ramadan yang tewas dalam ledakan pada hari Minggu 12/05.

“Kami meminta penyelidikan yang cepat, menyeluruh, dan transparan atas serangan ini,” kata Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.

Pihak UNIFIL melaporkan bahwa sebuah proyektil meledak di dekat posisi Adchit al Qusayr yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa personel perdamaian. Meski demikian, otoritas PBB belum bisa mengonfirmasi asal muasal tembakan tersebut di tengah pertempuran sengit yang sedang berlangsung antara militer Israel dan kelompok Hezbollah.

Selain korban tewas, serangan artileri tidak langsung tersebut juga menyebabkan tiga personel lainnya mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan intensif. Keamanan prajurit TNI di Lebanon kini menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia seiring meningkatnya intensitas serangan darat yang terus meluas di perbatasan selatan.

“Semua pihak harus menjunjung tinggi kewajiban mereka di bawah hukum internasional dan memastikan keselamatan personel PBB,” kata Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB.

Pemerintah Indonesia secara resmi menyatakan dukungan penuh terhadap usulan Prancis untuk mengadakan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB dalam waktu dekat. Serangan yang menargetkan prajurit TNI di Lebanon serta personel internasional lainnya dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional yang sangat serius.