JAKARTA, KAREBA – Pemerintah Indonesia menegaskan kondisi stok BBM Lebaran 2026 tetap aman terkendali meski terjadi pengalihan pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Langkah strategis ini diambil menyusul penutupan Selat Hormuz akibat konflik regional yang melibatkan kekuatan global sejak akhir Februari lalu.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa Indonesia sebenarnya tidak melakukan impor produk BBM jadi dari wilayah konflik tersebut. Kebutuhan nasional yang berasal dari Timur Tengah hanya terbatas pada minyak mentah atau crude oil dengan porsi sekitar 20 hingga 25 persen dari total konsumsi.

“Sekalipun Selat Hormuz ditutup, untuk kita punya 20 sampai 25 persen itu sudah kita alihkan ke negara lain,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Untuk menjaga stabilitas stok BBM Lebaran 2026, pemerintah telah mengalihkan rute pengadaan ke negara alternatif seperti Brasil, Amerika Serikat, dan Australia. Optimalisasi produksi domestik melalui kilang RDMP Balikpapan juga memperkuat ketahanan energi nasional guna menekan ketergantungan pada pasar global.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjamin masyarakat tidak perlu khawatir karena ketersediaan energi di lapangan sangat mencukupi untuk musim mudik. Berdasarkan data terbaru, cadangan Pertamax berada di level 29 hari sementara stok avtur tercatat aman di level 37 hari.

“Baik itu untuk crude oil, kemudian juga untuk stok BBM, LPG, semua tersedia dan masyarakat tidak perlu panik dengan kondisi saat ini,” kata Laode Sulaeman, Dirjen Migas.

Presiden Prabowo Subianto juga telah memberikan instruksi khusus untuk meningkatkan cadangan energi nasional hingga mencapai standar 90 hari. Langkah ini dilakukan untuk memastikan stok BBM Lebaran 2026 tetap terjaga meski konsumsi diproyeksikan melonjak hingga 12 persen pada puncaknya nanti.