MOUNTAIN VIEW, KAREBA. CEO Google Sundar Pichai ungkap reaksi pribadinya saat pertama kali melihat ChatGPT meluncur pada akhir November 2022. Ia mengakui kemunculan teknologi buatan OpenAI tersebut memicu kondisi tidak nyaman yang justru menggairahkan bagi perusahaan dalam mempercepat inovasi kecerdasan buatan.

Situasi ini bermula ketika Sundar Pichai ungkap reaksi spontan yang melihat potensi difusi teknologi AI berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan awal. Hal ini menyebabkan Google segera mendeklarasikan status Code Red secara internal guna mengalokasikan ulang berbagai tim pengembang untuk merespons ancaman terhadap dominasi layanan pencarian mereka.

“Uncomfortably exciting,” kata Sundar Pichai, CEO Google/Alphabet.

Setelah momen Sundar Pichai ungkap reaksi tersebut, Google langsung meluncurkan Bard pada 06/02/2023 yang kemudian diperluas aksesnya pada 21/03/2023. Perusahaan induk Alphabet Inc ini juga memperkuat infrastrukturnya melalui pembaruan ke sistem PaLM pada 31/03/2023 sebelum akhirnya berevolusi menjadi Gemini pada akhir tahun yang sama.

“Tapi benar, penghargaan untuk OpenAI, mereka merilisnya lebih dulu,” kata Sundar Pichai, CEO Google/Alphabet.

Pichai juga menjelaskan bahwa Google sebenarnya sudah memiliki elemen dasar teknologi serupa, namun sempat menunda peluncuran karena sangat memperhatikan risiko reputasi dan akurasi. Sejak Sundar Pichai ungkap reaksi atas tantangan tersebut, Google kini fokus menyatukan riset AI di bawah satu payung besar untuk mendukung integrasi Gemini pada seluruh produk konsumen mereka.

Sebagai langkah strategis ke depan, Google memproyeksikan pengeluaran modal atau capex pada 2026 mencapai 185 miliar USD atau sekitar Rp 2.952 triliun. Angka fantastis ini akan dialokasikan mayoritas untuk memperkuat infrastruktur AI yang kini mulai memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan pendapatan perusahaan secara keseluruhan.