DUBAI, KAREBA Pemerintah Uni Emirat Arab dengan tegas menyatakan UEA tolak klaim Israel yang menyebut negara Teluk itu telah menyerang fasilitas desalinasi air milik Iran. Bantahan keras ini disampaikan menyusul laporan dari sejumlah media Israel pada Minggu (08/03) yang menarasikan adanya aksi militer balasan.
Sebelumnya, media Israel memberitakan bahwa UEA melancarkan serangan perdana ke wilayah Iran dengan menargetkan infrastruktur sipil. Laporan ini muncul pada hari kesembilan sejak perang meletus pada (28/02). Pemerintah UEA tolak klaim Israel tersebut dan memastikan tidak ada operasi militer semacam itu dari pihak mereka.
“Ini berita palsu. Ketika kami melakukan sesuatu, kami punya keberanian untuk mengumumkannya,” kata Dr. Ali Rashid Al Nuaimi, Ketua Komite Pertahanan, Dalam Negeri, dan Urusan Luar Negeri Dewan Nasional Federal UEA.
Sikap tegas ini juga didukung oleh pernyataan sumber internal pemerintahan. Pihak UEA tolak klaim Israel karena narasi itu dianggap sebagai spekulasi tak berdasar. Mereka turut menyayangkan adanya pejabat asing yang berbicara seolah mewakili sikap resmi negara.
“Tidak pantas bagi apa yang disebut pejabat Israel senior berbicara atas nama UEA atau berspekulasi tentang niat kami,” kata pejabat anonim dari Pemerintah UEA.
Dalam menghadapi konflik ini, langkah diplomasi UEA tetap mengedepankan kehati-hatian tinggi. Kepemimpinan negara tersebut membedakan antara tindakan rezim yang berkuasa di Teheran dengan kondisi rakyat sipil.
“Kepemimpinan UEA tidak pernah mengkategorikan rakyat Iran bersama rezim Iran. Korban sejati dari rezim itu adalah rakyat Iran sendiri,” kata Dr. Ali Rashid Al Nuaimi, Ketua Komite Pertahanan, Dalam Negeri, dan Urusan Luar Negeri Dewan Nasional Federal UEA.
Ketegangan di kawasan Teluk terus memanas sejak eskalasi militer bulan lalu. Pasukan pertahanan udara UEA mencatat telah mengintersep ratusan proyektil maupun pesawat nirawak dari arah Iran. Serangan bertubi yang menargetkan bandara, pelabuhan, hingga area pemukiman ini memicu pemerintah UEA untuk memanggil Duta Besar Iran pada (02/03) lalu.
“Kami menolak penjelasan atau alasan apa pun dari Pemerintah Iran terkait eskalasi permusuhan yang menargetkan situs sipil,” kata Khalifa Shaheen Al Marar, Menteri Negara UEA.
Sementara itu, Iran justru menuding pihak lain terkait kerusakan fasilitas air mereka di Pulau Qeshm. Tuduhan tersebut diarahkan kepada Amerika Serikat yang dianggap sebagai aktor pertama pemicu konflik terbuka saat ini.
“AS yang membuka preseden ini, bukan Iran,” kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.