LONDON, KAREBA. Lebih dari selusin Whistleblower TikTok dan Meta membongkar rahasia kelam perusahaan yang diduga sengaja memperluas ruang bagi konten berbahaya di linimasa pengguna. Pengungkapan ini menunjukkan bahwa kedua raksasa teknologi tersebut memprioritaskan keterlibatan atau engagement pengguna di atas keselamatan publik guna memenangkan persaingan algoritma global.
Laporan yang muncul melalui dokumenter BBC pada 16/03 ini menyoroti bagaimana konten ujaran kebencian, perundungan, hingga seksualisasi remaja dibiarkan mengalir deras. Para Whistleblower TikTok dan Meta menyebut bahwa keputusan ini diambil secara sadar oleh manajemen untuk menjaga agar pengguna tetap terpaku pada aplikasi mereka dalam waktu lama.
“Konten yang memicu kemarahan dan kontroversi secara internal terbukti memiliki tingkat interaksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan konten edukatif,” kata Matt Motyl, mantan Senior Research Scientist di Meta.
Di pihak lain, seorang anggota tim keamanan TikTok berinisial Nick mengungkapkan adanya dashboard internal yang memberikan prioritas khusus pada konten milik politisi tertentu. Kebijakan ini diduga sengaja dilakukan oleh TikTok demi menjaga hubungan baik dengan para pemimpin politik di berbagai negara untuk menghindari regulasi yang ketat.
Persaingan sengit terjadi sejak Meta meluncurkan fitur Instagram Reels pada tahun 2020 sebagai upaya menandingi popularitas kompetitornya. Namun, langkah ini tidak dibarengi dengan sistem moderasi yang memadai sehingga memicu munculnya fenomena Whistleblower TikTok dan Meta yang merasa kecewa dengan standar keamanan perusahaan.
Hingga saat ini, baik Meta maupun TikTok terus menghadapi tekanan dari berbagai pihak terkait dampak algoritma mereka terhadap kesehatan mental remaja. Pengakuan para Whistleblower TikTok dan Meta ini memperkuat desakan bagi adanya transparansi penuh terhadap cara kerja sistem rekomendasi yang selama ini dianggap sebagai kotak hitam oleh publik.